Catat, Halal Tourism dan Wisata Religi itu Beda

IHGMA.com – Tren halal tourism mulai meningkat di beberapa negara di Asia. Singapura, misalnya. Pada 2018, Singapura telah dinobatkan sebagai tujuan wisata paling ramah Muslim di antara negara-negara non-Muslim lainnya oleh Mastercard-Crescent Rating Global Muslim Travel Index.

Lantas bagaimana dengan Indonesia?

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I, Kementerian Pariwisata, Rizki Handayani Mustafa mengatakan, “Wisatawan Muslim sudah mulai 2012, di Jawa Timur, Lombok, Aceh.”

Namun, Rizki mengatakan bahwa orang kadang salah kaprah soal halal tourism.

“Itu bukan mengislamkan destinasi, itu adalah extended service, menyiapkan kebutuhan bagi wisatawan Muslim, seperti makanan halal dengan banyak restoran bersertifikasi halal,” ujar Rizki dalam Four-Year Indonesia Tourism: Final Countdown To 20 Million di Jakarta, Rabu (13/3/2019).

Jadi, halal tourism itu adalah memberikan fasilitas untuk wisatawan Muslim, agar lebih nyaman dan tenang selama melakukan perjalanan.

Lebih lanjut, Rizki kembali menekankan bahwa halal tourism itu bukan kunjungan ke masjid-masjid, melainkan menyiapkan masjid, musala, dan restoran bersertifikat halal.

“Kalau kunjungan ke masjid-masjid itu dinamakan wisata religi,” ujar Rizki.

Terkait halal tourism, Rizki mengatakan bahwa Kemenpar memiliki tim percepatan wisata halal. “Jadi memfasilitasi pemerintah daerah soal bagaimana modelnya. Yang saat ini sedang digodok, Jawa Barat kayaknya, Kabupaten Bandung.”

(uzone)

Leave a Reply