Hotel hingga Restoran Tutup, Petani Merana karena Kopinya Tak Laku

lustrasi kedai kopi di tengah pandemi Foto: dok.ShutterStock

IHGMA.com – Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) mencatat banyaknya kopi yang menumpuk di gudang distributor ataupun petani kopi yang tak terjual akibat banyak hotel, restoran hingga cafe tutup. Penutupan tempat hiburan ini tentu saja akibat pandemi COVID-19.

Dilansir Kumparan.com Senin 24/8/2020,  Ketua AEKI Moelyono Soesilo mengatakan, permintaan kopi dalam negeri turun drastis karena adanya penutupan sejumlah tempat hiburan. Sebagian besar pasar dalam negeri mengkonsumsi jenis kopi arabika.
“Kita khawatirkan kopi arabika saat ini sangat kecil (permintaan) dibanding tahun-tahun biasanya. Jadi sekarang problem di daerah banyak penumpukan kopi yang tidak bisa terjual,” ungkapnya kepada kumparan, Senin (24/8).
Ia menambahkan, penurunan permintaan tak hanya pasar dalam negeri saja. Untuk pasar ekspor, mengalami penurunan hampir 50 persen. Ia mencontohkan, untuk kopi jenis arabika dalam sebulan mampu mengekspor hingga 6.000 ton per bulan sebelum pandemi.
Demand enggak ada, ekspor per bulan angka arabika mungkin 2.000-3.00 ton aja (per bulan),” lanjutnya.
Petani menjemur biji kopi gabah (hard skin) Palintang jenis Arabika di rumah pengepul kopi, Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Sabtu (18/7/2020). Foto: NOVRIAN ARBI/ANTARA FOTO 

Meski demikian, ia mencatat mulai terjadi tren permintaan kopi pada bulan Agustus 2020. Peningkatan permintaan kopi ini ditandai dengan naiknya harga kopi dunia menjadi USD 1.400 per ton. Sementara pada bulan Maret-April, harga kopi dunia sempat menyentuh di level USD 1.150 per ton.

“Terjadi permintaan yang cukup meningkat sisi komersil mutu,” katanya.
Sebelumnya, Lembaga pemerhati Kopi Indonesia, Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (YIDH) mencatat, penurunan harga kopi tersebut lantaran berkurangnya permintaan kopi di tingkat dunia. Adapun Arabika merupakan jenis kopi Indonesia yang memiliki pangsa pasar di dunia.
“Harga kopi turun di indonesia, global itu penikmat arabika. Di Indonesia turun 30-40 persen, terakhir sekitar Rp 34 ribu – Rp 37 ribu per kilogram (kg),” ucap Coffee Program Officer YIDH, Mahwida, saat diskusi virtual Peran Pengumpul dalam Prospek Bisnis Kopi Berkelanjutan, Kamis (13/8).

Leave a Reply