IHGMA: SDM Sekolah Pariwisata harus penuhi Industri Pariwisata

BALI, IHGMA.com – Pemerintah melalui program kerja Kabinet Indonesia Maju menggulirkan program prioritas utama pada pembangunan sumber daya manusia di segala bidang, tak terkecuali sektor pariwisata.

Koordinator program pendampingan DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali pada SMK Pariwisata Se-Bali, Ketut Swabawa Senin (11/11) mengatakan sumber daya manusia (SDM) yang dicetak sekolah pariwisata wajib memenuhi kebutuhan industri pariwisata.

Director Swaha Hospitality ini mengungkapkan, sekolah pariwisata di Bali wajib memperhatikan output SDM yang telah di cetak. Ini perlu dilakukan terobosan-terobosan yang inovatif dan bersifat praktis berfokus pada hasil.

Keberadaan SMK Pariwisata yang berperan dalam pembentukan embrio tenaga pariwisata tingkat pemula perlu mendapatkan perhatian serius. Ketika terjun ke industri, SDM pariwisata dapat melaksanakan pekerjaan sesuai standar dan kebutuhan di industri.

Melihat kondisi tersebut, DPD Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA) Bali secara konsisten melakukan pendampingan untuk sekolah kejuruan kepariwisataan yang ada di Bali.  Jumat (8/11) lalu IHGMA telah mengadakan workshop bertemakan “Global Tourism Trend” untuk para guru pengajar di SMK Negeri Denpasar.

Swabawa, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan tindak lanjut dari kerjasama antara DPP IHGMA dengan Asosiasi SMK Pariwisata Indonesia di bawah koordinasi Kementerian Pariwisata RI dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Dalam workshop, IHGMA Bali memaparkan tren kepariwisataan dunia yang terjadi di industri. Ini termasuk juga konsep-konsep kepariwisataan, jenis bisnis perhotelan, seni kuliner, SDM perhotelan yang unggul, serta isu-isu terkait strategi lulusan SMK untuk berhasil meraih posisi kerja pada dunia perhotelan.

Kendala utama yang dihadapi sekolah pariwisata dalam rangka mewujudkan link and match antara dunia pendidikan dengan dunia industri adalah pada kurikulum pendidikan.

Kurikulum tersebut belum memberikan porsi porposional terhadap pengetahuan keterampilan dan pendidikan vokasi. Ditambahnya,  komposisi guru pengajar terkait materi perhotelan masih sangat terbatas. Bahkan banyak yang menerapkan sistem fungsi ganda.

Ia melihat ketersediaan guru produktif atau pengajar kejuruan bidang perhotelan masih sangat terbatas dan bahkan jauh di bawah jumlah guru normatif dan adaptif. Strategi fungsi ganda guru juga memiliki kendala dimana mereka tidak memiliki latar belakang perhotelan dan kurangnya program pelatihan yang konsisten dan holistik dari pemerintah.

Swabawa yang juga Wakil Ketua DPD IHGMA Bali menyampaikan dari workshop tersebut menghasilkan beberapa point diantaranya akan diadakan program review kurikulum dari yang sudah ada untuk disesuaikan sub materinya dengan materi di perhotelan. Dicontohkan misalnya pada pelajaran agama pada topik Tat Twam Asi bisa diselipkan contoh-contoh seperti Customer Relationship, atau pada topik Tri Kaya Parisudha diselipkan materi Hospitality Manner, Job Responsibility dan sebagainya.

Selain Swabawa hadir juga pemateri dari IHGMA Bali yaitu IGAN Darma Suyasa dan I Made Subrata.

Darma Suyasa menambahkan bahwa hotel-hotel member IHGMA Bali juga siap menerima para guru untuk melakukan pemagangan singkat untuk mempercepat pengenalan lingkungan kerja perhotelan.

“Guru-guru harus mengenal sistem kerja yang real di hotel , dan kami siap membantu dan memfasilitasi hal tersebut agar para guru lebih confidence dalam menyampaikan materi terkait dunia perhotelan kepada para siswa” kata Darma Suyasa yang juga Kabid Sosial dan CSR pada IHGMA Bali ini.

Made Subrata yang mengatakan bahwa kendala para guru ini harus dicarikan solusinya bersama-sama dan pihak industri siap membantu sesuai bidang yang menjadi kemampuannya.

Hasil lainnya juga disampaikan bahwa pihak sekolah meminta bantuan pihak industri untuk membantu secara reguler program pembelajaran umum secara berkala untuk memberikan pencerahan dan wawasan baru terkait perkembangan pariwisata di industri bagi guru dan siswa di SMK. Hal ini dipandang penting karena perkembangan dan perubahan sangat dinamis dan cepat. *

Leave a Reply