Kebijakan Bagasi Berbayar Bikin Divers Beralih ke Kapal Wisata

AMBON, IHGMA.com – Masih mahalnya harga tiket dari dan ke Ambon, serta kebijakan bagasi berbayar yang diberlakukan sejumlah maskapai penerbangan, memukul bisnis pariwisata di Maluku.

“Jika harga tiket masih mahal seperti ini, terus bagasinya harus berbayar, sementara peralatan diving yang dibawa wisatawan biasanya lumayan berat. Bagimana bisa kami menjual perjalanan wisata divingnya, jika bagasi mereka jadi mahal,” ujar Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) Maluku, Ceisar Riupassa, kepada Gatra.com di Ambon, Jumat (7/3).

Ceisar yang juga pemilik Naira Dive Center di Kepulauan Banda, Maluku Tengah ini menyebutkan, pasar diving mereka di Kepulauan Banda ini, terbanyak wisatawan dari Malaysia.

“Mereka biasanya terbang via Makassar ke Ambon menggunakan maskapai Lion Air. Nah sekarang mereka terbebani dengan tambahan biaya bagasi,” terangnya.

Senada dengan Ceisar, Ketua Perhimpuna Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Wilayah Kecamatan Banda, Rizal Bahalwan mengakui, salah satu masalah terbesar saat ini adalah mengenai peraturan baru untuk bagasi pesawat yang berbayar.

“Wisatawan yang datang ke Banda kebanyakan untuk diving, dan peralatan diving sendiri bisa sampai 60%. Itu menjadi masalah bagi wisatawan yang akan datang ke Kepulauan Banda, sebab perlu pengeluaran yang besar untuk bagasi,” tandasnya.

Dia katakan, saat ini banyak wisatawan yang kemudian memilih untuk menggunakan jasa kapal wisata atau kapal phinisi.

“Mereka memilih kapal pinisi karena bila dihitung lebih terjangkau biayanya. Namun kami juga merugi, karena banyak penginapan yang kosong. Sebab mereka menginap di kapal,” ungkapnya.

Rizal katakan, kondisi yang sama juga dialami para pemilik restoran yang ada di Pulau Banda. Karena para wisatawan yang nginap di kapal ini, biasanya turun ke pasar berbelanja kebutuhan makan untuk dimasak di kapal.

“Oleh sebab itu kami sedang berusaha untuk berkoordinasi dengan pihak pemerintah, pariwisata dan ASITA agar mendapat jalan keluar,” tandasnya.

Leave a Reply