Kisah Fadly, Si Tukang Cuci Piring yang Jadi Chef Hotel Berbintang

IHGMA.com – Fadly Syahputra dikenal sebagai chef di Hotel Santika Jemursari Surabaya. Siapa sangka kalau pria kelahiran Tandes ini mengawali kariernya sebagai tukang cuci piring.

“Begitu lulus STM saya langsung kerja sebagai tukang cuci piring di restoran. Cari kerja kan susah jadi begitu dapat kerjaan ya sudah saya jalani, yang penting kerja,” kisah Chef Fadly saat dihubungi Basra, Sabtu (7/12).

Selain harus mencuci piring, pria lulusan STM jurusan Bangunan tahun 1995 ini juga membantu masak sang chef restoran. Di sinilah jalan Fadly mulai ‘berjodoh’ dengan dunia masak memasak. Karena sang chef seorang ekspatriat (WNA), tak mudah bagi Fadly bisa mengetahui secara pasti setiap resep masakan yang diolah.

Meski demikian, Fadly tak kurang akal. Secara sembunyi-sembunyi, ia pun mulai belajar memasak.”Chef saya waktu itu ekspatriat, enggak mau bagi-bagi resep masakan, apalagi ngajarin masak. Jadi harus pintar-pintar ‘nyuri’ ilmunya,” kenangnya seraya tergelak.

Meski tergolong pelit ilmu, namun chef ekspatriat di mata Fadly adalah sosok yang penuh dengan disiplin. Tak ayal, Fadly pun kerap kena amarah jika datang sedikit terlambat. Dimaki hingga diusir sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Fadly saat bekerja dengan chef ekspatriat. Namun hal tersebut justru memotivasi Fadly untuk belajar lebih giat tentang masak memasak.

“Saya bersyukur punya kesempatan bekerja dengan chef ekspatriat. Mereka disiplinnya luar biasa, saya banyak belajar,” imbuhnya.

Berkat kesabaran dan keuletannya, Fadly akhirnya mampu bekerja sebagai chef di restoran. Meski harus bekerja di luar kota Surabaya dengan konsekuensi meninggalkan keluarga namun tak menyiutkan nyali Fadly.Mulai tahun 1996 Fadly malang melintang menjadi chef dari satu resto ke resto lain, dari satu kota ke kota lain.

Hingga pada Agustus 2019 kembali ke Surabaya dengan bergabung sebagai Executive Chef Hotel Santika Jemursari.

Uniknya meski telah 26 tahun lamanya menjalani profesi sebagai chef, namun tak satupun kompetisi memasak yang diikutinya. Bahkan ia kurang sependapat adanya julukan MasterChef.

“Menurut saya seorang MasterChef itu harus menguasai masakan dari seluruh dunia, seluruhnya lho ya bukan jenis masakan China, Eropa, ataupun Nusantara. Nah kan ndak mungkin ada yang bisa menguasai resep masakan dari seluruh negara di dunia.

Masakan dari setiap kota di Indonesia belum tentu bisa semua, apalagi dunia,” jelasnya.Sementara itu perkembangan teknologi yang kian pesat seperti sekarang ini turut mempermudah Chef Fadly dalam melakoni pekerjaannya.

Ia dapat mengetahui tren masakan terbaru hingga alat-alat masak yang juga mengalami perkembangan yang signifikan.

“Sekarang alat-alat masak sudah semakin canggih jadi mau bikin masakan apapun gampang. Mau tahu tren masakan juga tinggal browsing lewat internet. Jadi kemajuan teknologi harus bisa kita manfaatkan secara positif,” pungkasnya. (kumparan)

Leave a Reply