Made Ramia Adnyana, Suntikan Dana Bailout

Ihgma.com – Dampak pandemi Corona (covid-19) sangat dasyat tidak hanya menutup operasional melainkan hotel juga sampai kehabisan dana cashflow. Wakil Ketua Umum 1 Dewan Pimpinan Pusat Indonesian Hotel General Manager Association (IHGMA), I Made Ramia Adnyana di sela-sela Webinar yang diselenggarakan Pusat Unggulan Pariwisata (PUPAR) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana Rabu (20/5) mengatakan akomodasi di Bali membutuhkan suntikan dana billout dari pemerintah sehingga bisa bertahan dan kembali beroperasi seperti sebelumnya.

I Made Ramia Adnyana yang juga Kandidat Doktor Pariwisata dari program Doktor Pariwisata Fakultas Pariwisata Universitas Udayana mengungkapkan akomodasi khususnya hotel di Bali sudah tidak memiliki cashflow lagi. “Pengusaha pariwisata bisa bertahan pemerintah harus hadir membantu dunia usaha di sektor pariwisata,” ucapnya.

Dijelaskan pihak hotel menghadapi masalah semakin berat harus mengeluarkan dana operasional dengan proporsi sekitar 50 persen-60 persen untuk fix cost dan variable cost. Beban biaya payroll ( PTER ) sekitar 25 persen untuk menggaji karyawan, 10 persen untuk biaya room cost dan 10 persen untuk membayar rekening listrik PLN. Sisanya untuk biaya cost of sales food & beverage serta biaya promosi dan biaya lain lain.

GM Hotel Sovereign Bali ini mencontohkan Hotel Sovereign harus merogoh kocek untuk membayar rekening listrik antara Rp 220 juta– Rp 260 juta per bulan. Manajemen hotel sudah mencoba melakukan negosiasi agar mendapat penundaan atau keringanan ternyata hasilnya nihil. PLN juga mengalami kesulitan keuangan dan tidak bisa mengabulkan keinginan pengusaha pariwisata.

Pelaku sektor pariwisata Bali tentu mendesak pemerintah untuk segera mengeluarkan kebijakan memberikan bailout kepada pengusaha pariwisata seperti yang dilakukan pemerintah Jerman,” ucapnya.
Menurut Ramia Adnyana, seandainya pemerintah tidak ada kebijakan bailout, pengusaha pariwisata ingin menawarkan system bayar sekarang, menginap belakangan (berlaku sampai Desember 2021). Program “Pay Now Stay Later “ini sebagai salah satu solusi pemerintah membantu pengusaha hotel.

Pemerintah membeli voucher sekarang dan bisa dipakai nanti ketika situasi sudah normal kembali. Ini akan sangat membantu baik pengusaha maupun pemerintah. ” Sebab dana yang disalurkan akan bermanfaat dan tidak hilang karena disimpan dalam bentuk voucher yang bisa digunakan untuk kepentingan perjalanan di masa yang akan datang dan tentunya dapat menghemat karena harganya super special,” tegasnya.

Ramia Adnyana menambahkan sebagai solusi untuk mendapatkan cashbflow secara cepat pihaknya menjual voucher kepada rekanan business dan travel agent dengan system bayar sekarang, menginap belakangan (berlaku sampai Desember 2021).

Promosi yang bertajuk “Pay Now, Stay Later” ini cukup sukses memberikan pemasukan sehingga operasional hotel yang dipimpinnya masih bisa berjalan. Promosi tersebut disebarkan kepada 3.000 agen pemasaran di Bali dan luar Bali yang selama ini diajak kerja sama, hingga akhir April 2020 sudah terjual 1.700 voucher dari target 7000 voucher. Kesuksesan H Sovereign Bali juga diikuti sejumlah hotel di Bali dan di Surabaya, Jawa Timur.(

Leave a Reply