MAKNA PUASA BAGI PEKERJA HOTEL

SOLO, IHGMA.COM – Hai, para hotelier se Indonesia yang cantik dan ganteng… Tanggal 18 Mei yang lalu para umat Islam menyambut dengan gembira datangnya bulan Ramadhan, dimana seluruh umatnya mulai menunaikan ibadah puasa selama satu bulan penuh.

Apa sih arti puasa itu? Arti dari kata Puasa, atau sering disebut juga dengan shaum atau shiyam adalah menahan diri dari segala yang membatalkan, sejak terbit fajar sampai terbenam matahari dengan niat karena Allah SWT.

Allah memerintahkan umatNya untuk melaksanakan ibadah tersebut sesuai dalam FirmanNya pada surat Al Baqarah ayat 183 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa, (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barang siapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (Kitab Suci Alqur’an AL-Baqarah : 183-184)

Maka wajiblah kita para muslimin muslimah untuk menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan. Pasti sudah tahu kan maksud menahan diri segala yang membatalkan, ya itu adalah tidak boleh makan, tidak boleh minum, melakukan hubungan badan —yang ini tentu dengan pasangan yang sah yaa, jangan dengan yang lain, kakak—, bergunjing atau membicarakan orang lain, apalagi sampai melakukan fitnah, aduuhh jangan dong… dan keinginan-keinginan lain yang bertentangan dengan hukum.

Di Indonesia melakukan ibadah puasa bisa sepanjang 13,5 jam setiap hari. Lumayan lama juga yaa. Ah, di Indonesia ternyata masih cukup beruntung dengan masa puasa selama itu.

Chile merupakan negara dengan waktu puasa terpendek, yaitu hanya 9,5 jam saja. Dimulai dari pkl. 05.31 dan buka pada pkl. 15.00. Sementara umat Islam di negara-negara di Skandinavia adalah orang yang harus berpuasa hampir 21-22 jam lamanya. Finlandia memiliki waktu puasa terlama di dunia, yaitu 23 jam 5 menit. Wow, bisa dibayangkan masa bebas makan tak lebih dari 1 jam, tepatnya hanya 55 menit.

Jadi Indonesia masih beruntung toh?

Nah sekarang kaitannya dengan judul kita, yaitu makna puasa bagi pekerja hotel, dari tadi sudah menunggu kapan dibahasnya ya….

Baiklah, sebagai pekerja hotel, bagi Anda yang muslim atau muslimah, maka hukumnya tetap wajib menjalankannya. Tetap harus berpuasa kendatipun harus melaksanakan tugas selama satu shift, khususnya yang bekerja pagi hari hingga sore hari (morning shift), baik dalam sibuknya hotel maupun lengangnya hotel, kewajiban tersebut tidak boleh terlewati.

Walaupun berat untuk membersihkan kamar hingga belasan unit, seorang Room Attendant harus dapat menjalankan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Jangan hanya karena tenaga terkuras untuk bersih-bersih kamar selama 8 jam kerja itu, lalu dapat membatalkan puasa.

Atau para pramusaji (Waiter/Waitress) yang tugasnya melayani tamu yang makan —nah ini yang makan saat puasa bisa saja karena mereka yang non-muslim, atau karena ada halangan, atau karena kondisi sakit. Janganlah karena melayani tamu yang makan atau minum, atau melihat tamu yang menikmati makanan dengan lahapnya, lantas kita tergoda untuk ikut makan atau minum yang akibatnya dapat membatalkan puasa.

Begitu juga dengan para ahli masak di dapur, cook hingga chef, janganlah tergoda dengan masakan yang dibuat untuk tamu yang memesan.

Tak ketinggalan pula bagi petugas Front Office dan Concierge, yang menghadapi tamu-tamu bermacam ragam suku dan bangsa, ada yang warga bangsa sendiri atau bangsa asing, yang datang berkunjung ke hotel, apakah itu ingin menginap atau sekedar berkunjung ke restaurant atau bar dengan mengenakan pakaian dari yang tertutup penuh bahkan hingga yang hanya mengenakan rok mini atau pakaian tank top. Mata kita juga harus berpuasa melihat sesuatu yang akan mengganggu syahwat atau nafsu kita.

Justru itu menjadi cobaan dan ujian bagi kita terhadap kuatnya kadar keimanan kita melawan segala godaan hingga batalnya puasa kita. Jalankan saja kegiatan bekerja dan memberi pelayanan kepada tamu seperti biasanya namun dengan meniatkan diri berpuasa karena Allah SWT.

BANYAKLAH BERBUAT KEBAJIKAN

Daripada hanya sekedar mengeluhkan hal-hal yang bisa membatalkan puasa, kembali saja kita kepada niat kita untuk berpuasa karena Tuhan. Disamping itu, marilah kita berbanyak tindakan kebajikan selama menjalankan ibadah puasa, seperti bersedekah berbagi rejeki kepada kaum dhuafa, kaum yang tidak mampu dengan memberikan makanan sahur atau makanan buka puasa atau tajil, perbanyak baca Al Quran, perbanyaklah ibadah shalat, melakukan muhasabah atau kegiatan berintrospeksi diri, mengadakan tausiyah, sering-seringlah beribadah ke masjid, makmurkanlah mesjid, apalagi kalau hotel dimana kita kerja terdapat masjid atau mushalla. Bulan puasa umumnya tingkat kesibukan bisnis hotel agak menurun kan… nah saat itulah ambil kesempatan untuk beribadah. Upayakan jangan ditinggal, karena ibadah akan mempertebal iman kita dan memperkuat puasa dan makna puasa kita.

Jangan lupa, saat puasa, kurangilah bergunjing atau membicarakan orang, atau bergosip ria, apalagi sampai melakukan kebohongan atau fitnah dan menzholimi orang lain…. Aduuhh, jangan deh yaa…

Lebih baik kita menjaga hati, menjaga ucapan, menjaga sikap, pertebal keimanan kita, bersama dengan saudara-saudara lainnya saling bersilaturahmi menjaga persaudaraan dan persahabatan. Kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hamba-Nya yang beriman dan bertakwa tentu akan menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya, apalagi terhadap saudara seakidah.

Puasa Ramadhan diwajibkan bagi setiap mukmin yang telah akil baligh. Akil adalah orang yang sudah dapat membedakan sendiri antara yang baik dengan yang buruk. Sedangkan Baligh adalah orang yang sudah dewasa dan qaddir serta sehat jasmani dan rohani.

Namun ada juga beberapa golongan yang mendapat keringanan dalam berpuasa atau yang dibebaskan dari kewajiban berpuasa, antara lain:

  1. Orang sakit dan orang yang dalam perjalanan. Golongan ini dibebaskan dari wajib puasa selama sakit atau selama musafir. Akan tetapi mereka diwajibkan mengganti puasa sebanyak hari yang ditinggalkan pada hari2 yang lain baik secara berurutan atau berpisah-pisah.
  2. Perempuan dalam haid (menstruasi), perempuan hamil dan perempuan yang menyusui anaknya. Namun mereka harus meng-qadha hari-hari yang mereka tinggalkan atau membayar fid-yah, bagi kedua golongan terakhir ini.
  3. Orang tua yang sudah lanjut usia yang tidak kuat berpuasa.
  4. Orang sakit berat artinya mengalami penyakit yang membutuhkan perawatan ekstra dan teratur dalam suplai makanan dan minuman.
  5. Mereka yang bekerja berat, dan karena berat kerjanya itu tidak kuasa berpuasa. Seperti pekerja-pekerja tambang, buruh-buruh kasar di pabrik dan di pelabuhan.

Nah, bagi mereka yang tidak mungkin menggantikan puasanya lagi pada hari2 yang lain, karena usia yang sudah terlalu tua, atau penyakit kronis yang berat, dan kerja2 berat yang tidak bisa ditinggalkan, maka wajib bagi mereka membayar fidyah. Melakukan fidyah yaitu memberi sedekah makanan kepada orang miskin tiap hari sebanyak 3/4 liter beras atau dengan uang yang seharga beras tersebut.

Ujung-ujungnya kita akan melihat siapa yang akan memenangkan pertarungan hawa nafsu tersebut. Bila kita bisa melaluinya tanpa tergoda sekalipun, berarti kadar keimanan kita sudah tinggi, makanya dalam surat Al Baqarah ayat 183 tadi tertulis “Hai orang-orang beriman…”, maka jadikanlah diri kita sebaik-baiknya orang yang beriman. Salam Ramadhan dan Salam Pariwisata… (Wishnu)

Leave a Reply