Memahami Aturan Menginap di Hotel

IHGMA.com – Malam ini tetiba satu teman di Facebook tag saya di satu postingnya. Ternyata dia share video yang sampai malam ini sudah dilihat puluhan ribu kali, pertama kali di-share oleh seseorang berinisial RS dan ada tiga video yang dia upload yang adalah rekaman tamu marah-marah pada orang hotel karena tidak diperkenankan untuk tinggal padahal dia sudah booking untuk dua malam. (Perhatikan: saya tidak menulis bahwa RS yang mengupload ini adalah sama dengan tamu yang marah-marah ya, camkan itu! *chuckle*)

Saya sih males ya mengupload video itu di sini, karena saya lebih senang membahas kasus ini secara general. Dan mengambil hikmah, siapa tahu si hikmah mampir di video secara tak kasat mata. #opotoiki

Ringkas cerita begini, para pembaca, si tamu di video ini marah-marah karena dia sedang beristirahat di kamar dan diminta oleh staf hotel bintang lima di Bali (yang katanya sama bell-boy juga yang langsung mengemasi barang-barang tamu) untuk meninggalkan kamar seperti dikutip dari balepoint.com.

Wah, kejam banget ya?

Sebentar bro… baca dulu duduk perkaranya.

Ternyata si tamu memesan 1 kamar dan dia datang bersama 1 istri + 2 anak (masih bayi katanya, 1 & 2 tahun), daaaan… jeng jeng… dua baby sitter.

Jadi total tamu yang menginap di sana adalah 4 dewasa + 2 anak.

Sedangkan aturan hotel bilang, maximum occupancy di kamar itu adalah 2 dewasa + 2 anak. Kalau mau tambah 1 dewasa, harus pesan extra bed. Dan untuk 2 anak itu di bawah 12 tahun, free of charge apabila mereka stay di existing bed, alias nggak akan disediakan bed tambahan.

Di sini sudah jelas ‘kan? Bahwa sebenarnya tamu itu melanggar aturan hotel, dan malah mencak-mencak ketika ketahuan. Pun ketika hotel menawarkan solusi untuk menambah kamar (dengan tambah biaya tentunya), tamu tetap aja marah-marah nggak jelas, padahal katanya duit bukan masalah baginya.

Trus ada yang ngeyel: lah itu ‘kan sudah check in, kok nggak ditegur pas mau check in, kenapa harus pas tamu leyeh-leyeh di kamar?

Sebagai insan pariwisata, sudah jamak kasus macam gini, masbro dan mbaksis sekalian. Saat register mau check in, tamu nggak mengaku kalau dia datang sekampung. Ngakunya cuma sama bini. Setelah pegang kunci, baru deh satu per satu teman-teman atau sanak keluarganya datang ke kamar, kadang sambil nyelundup biar nggak ketahuan sama staf hotel.

Duh, kok kejam banget ya hotel itu?

Wah, bukan kejam itu namanya. Setiap hotel punya peraturan termasuk soal kapasitas kamar atau biasa kita sebut maximum occupancy. Dan peraturan ini pasti sudah diinformasikan saat tamu melakukan pemesanan, baik itu pemesanan langsung ke hotel, lewat travel agent atau lewat online travel agent. Nih contohnya, saya ambil dari salah satu OTA, di sana tertera jelas soal peraturan dan maximum occupancy tiap kamar. Jadi kalau booking kamar, biasakan baca Term & Condition dan hotel policy dengan jelas, jangan asal main booking.

Peraturan-peraturan yang berlaku di hotel seperti jam check-in dan check-out, maximum occupancy, noise pollution.. eh, noise policy (maaf ketuker istilah noise pollution yang ada di status pengupload video tadi hahaha), pastinya punya landasan pemikiran kuat. Contohnya nih, mengapa ada maximum occupancy, bayangkan bro kalau matras yang seyogyanya buat 2 orang trus dibebani 4 orang, bakalan cepat rusak tuh!

Masalahnya adalah… sedikit banget tamu yang mau membaca confirmation letter dengan teliti. Tanpa bermaksud menggeneralisasi orang Indonesia, tapi memang banyak orang kita yang nggampangin persoalan. Kalaupun baca konfirmasi dan mendapati bahwa maksimum orang dewasa yang boleh check in adalah 2 orang, belagak gak tahu dan “alaaah, gampang nanti baby sitter kita ngumpet-ngumpet aja masuknya”.

Trus kalau ketahuan, dan ‘diusir’, tamu malah mencak-mencak menuduh hotel seenaknya aja.

By the way, istilah “diusir” ini istilah tamu yang mencak-mencak di video itu ya. Kalau dari video yang ditayangkan, saya justru kasihan sama staf hotel yang sabar banget ngadepin tamu, sementara si tamu arogannya minta ampun. Diminta duduk nggak mau (nggak capek apa ya bertengkar sambil berdiri gitu, mbok ya duduk biar ngobrolnya lebih enak). Sekuriti yang diem aja, dituduh emosi (sumpeh saya ngakak lihat bagian ini, maaf ya pak sekuriti, kami semua paham bagaimana rasanya ngadepin tamu macam begini).

Baiklah, kita nggak usah fokus sama video tiga bagian ini deh. Kita bahas aja soal kelakuan tamu yang sering bikin pihak hotel mengelus dada. Ini nggak terbatas tamu Indonesia atau tamu orang asing ya, kalau tamu orang asing melanggar aturan pun, hotel juga pasti bertindak tegas kok.

Berikut daftar kasus kelakuan tamu hotel yang susah dimengerti yang tercatat di ingatan saya:

  1. Check-in sekampung (kalo kata orang Bali: sebanjar) melebihi maximum occupancy kamar. Nggak munafik, saya juga pernah kok check-in rame-rame, namanya juga anak muda. Tapi kalau saat itu ketahuan pihak hotel, kami nggak akan mencak-mencak kok, kami tahu kami yang salah.
  2. Kalo lolos dari teguran pihak hotel, turunkan matras buat tempat tidur teman yang melebihi kapasitas tadi.
  3. Bawa rice cooker (ini nyata bro!).
  4. Bawa aqua galon (ini juga nyata!). Ini nggak melanggar aturan sih (setahu saya) tapi ayolah, bisa bayar hotel bintang lima masa’ iya gak bisa beli air mineral botolan sih? (Updated 5/5/16 19:19 PM : dari komentar yang masuk, ada masukan bahwa beberapa tamu terutama yang berkeluarga dan butuh air mineral banyak, lebih memilih bawa aqua galon dengan alasan kepraktisan dan lebih hemat. Saya akui, ada benarnya. Well, it’s your choice, guys, anyway that’s why saya tidak menulis “kelakuan tamu hotel yang melanggar peraturan” seperti yang saya bold di atas, melainkan “kelakuan tamu hotel yang susah dimengerti”, selengkapnya saya tambahkan: oleh saya pribadi yang pengalamannya lebih sering sebagai single/couple traveler. Terimakasih masukannya, Mbak Via!)
  5. Mengambil barang-barang inventori hotel yang ada di kamar. Ini bisa dari yang kecil seperti asbak, vas bunga, sabun cair (!) sampai handuk dan bantal! (Can you imagine? Nyelundupin bantal di koper? Come on!)
  6. Check-in sebelum jam check-in dan marah-marah ketika kamar belum siap. Nah, ini juga gunanya baca confirmation letter secara teliti, karena di situ pasti tercantum jam check-in dan check-out.
  7. Pakai pakaian yang ‘seenaknya’ di public area. Ini sih sebenarnya sudah etiket dasar ya. Yang namanya slippers ya dipakai di kamar, jangan sampai dipakai ke restoran. Atau pakai bikini ya di kolam renang, jangan keluyuran ke lobby.
  8. Membuat keributan sampai tetangga kamar sebelah terganggu, atau keributan di publik area seperti dunia milik mereka dan tamu yang lain tak kasat mata. Well… no explanation’s needed. Sudah jelaslah.

Yang mengherankan, hal-hal di atas dilakukan juga oleh beberapa tamu hotel bintang lima loh! Padahal kalau saya pikir nih, bisa booking kamar di hotel bintang lima berarti punya duit lebih. Berarti wong sugih. Lha kok kelakuannya kayak orang gak punya duit?

Kembali ke soal video tadi, melihat ratusan komen yang masuk sungguh amat menghibur meski banyak yang sadis mengiris sampai bikin kuping tipis. Tapi saya penginnya sih itu video dihapus atau diturunkan aja. Bukan karena pihak hotel salah, atau takut karena si tamu mengucap bakal panggil anggota DPR (buat backing?), tapi… kasihan, justru tamu dan si pengupload videonya di-bully habis-habisan. (Eh kenapa saya harus kasihan ya, sepenglihatan saya, si pengupload video nggak merasa nyesel kok.)

Jadi, demi ketenteraman semua pihak, kalau kita menginap di hotel, taati aturan yang berlaku di hotel itu. Bukan berarti bisa bayar kamar mahal, lalu tamu berhak bikin aturan sendiri.

Dan kalau terjadi apa-apa, jangan gampang upload video laah, malu-maluin diri sendiri boss!

Leave a Reply