Nita Narulita, GM The Square Hotel Surabaya: ” Pemerintah Harus Mengawal Regulasi Perhotelan”

SURABAYA, IHGMA.com – Persaingan sengit di aspek bisnis hospotality semakin tak bertirai. Kompetisi di sisi tarif jadi hal yang diumbar bebas.

Terkait hal tersebut, beberapa waktu lalu khususnya di Surabaya, Walikota Tri Rismaharini pernah mengungkapkan bakal berencana mempermudah perijinan perhotelan kelas budget.

Pastinya, hal ini menjadi angin segar bagi para pelaku bisnis di segmen hospitality.

Nita Narulita, General Manager The Square Hotel Surabaya menanggapi hal tersebut. Menurutnya, persaingan yang sehat apalagi di bidang perhotelan saat ini yang jadi prioritas adalah peningkatan brand awerenes, hal ini dilakukan karena untuk lebih memperkenalkan hotelnya, terlebih lagi hotel di klasemen budget atau hotel mulai bintang satu hingga 3 seperti dilansir dari Ulashotel.com

“Jika diamati dengan seksama, persaingan tarif kamar hotel di Surabaya ini sangat kuat dan bahkan menjadi tidak sehat. Apalagi marak penggunaan dan transaksinya melalui OTA (Online Travel Agent). Dan kebanyakan para tamu lebih suka atau memilih OTA ketimbang Direct langsung. Kendati sebenarnya banyak hal yang bisa kita berikan jika tamu itu direct atau langsung (service),” papar Nita kepada ulashotel.com.

Untuk lebih memperdalam informasi terkait bisnis perhotelan menurut persepsi Nita, simak wawancara eksklusifnya kali ini dengan tim ulashotel.com.

UH: Menurut Anda, makin menjamurnya hotel memberlakukan tarif miring yang kadang terkesan offset, apa strategi Anda menghadapi kenyataan ini?

NN: Pertama, Menawarkan tarif hotel dengan harga terhangkau atau kompetitif, bisa dilakukan namun harus melihat beberapa faktor lingkungan sekitar. Artinya, hotel yang kita harus tahu betul hotel yang menjadi pesaing kita. Apa yang mereka lakukan, terus apa yang menjadi kekuatan mereka? Dengan demikian, kita komparasi dengan apa yang kita punya dan yang perting kita harus menentukan segment pasar kita dahulu. Dan semuanya tak mungkin semuanya bisa di pukul rata dengan harga murah. Jangan sampai murah tetapi jika membuat tamu tidak nyaman, pasti mereka (tamu) tak akan kembali lagi ke hotel kami.

Kedua, menyajikan fasilitas yang lebih untuk tamu. Seperti halnya di Square Hotel ini, kami menyediakan beberapa fasilitas untuk pelanggan kami seperti adanya arena Bilyard, area foodcord, area Family Karoke bahkan kami siapkan shuttle car (mobil antar jemput bandara) untuk memudahkan tamu. Dan untuk tamu yang melakukan direct booking tanpa melalui OTA, akan kami fasilitasi tambahan upgrade kamar dan pick up and drop, bisa early cek in berikut late cek out.

UH: Square Hotel Surabaya sesuai levelnya, sebenarnya membidik segmen pasar mana?

NN: Tentunya dari awal, kami konsisten membidik segmen education, korporat dan pemerintah (goverment) khususnya di Jawa Timur.

Sebenarnya, The Square Hotel cenderung kuat menguasai segmen korporat dan pemerintahan. Sebab sebelumnya, saya di jakarta besar menjadi sales di segmen tersebut.

UH: Menurut Anda, perlukah diberlakukan adanya regulasi harga atau tarif di bisnis perhotelan ini?

NN: Sangat perlu! Ini harus dibahas dan diputuskan secara matang. Sebab hal ini akan memunculkan persaingan yang luar biasa dan pemerintah terkait, harus ada dan ikut mengawal jika memang ada kebijakan ini. Karena menurut saya, hingga kini saya melihat belum ada sinergi yang baik antara pemerintah dengan pelaku perhotelan.

UH: Sistem Management apa yang Anda terapkan di The Square Hotel Surabaya ini?

NN: Kami memberlakukan konsep Square Smarter Stay Family Service. Dan saya menganggap semua karyawan di sini merupakan keluarga dan saya akan selalu mengingatkan semua karyawan untuk memberikan service maksimal kepada seluruh tamu layaknya mereka sebagai keluarga sendiri, agar tamu merasa nyaman seperti di rumah sendiri.

UH : Terkait pemerintah kota yang akan membuka ijin untuk pembangunan hotel baru apa tanggapan Anda?

NN: Saya menyambut baik kebijakan tersebut, sebab ini akan menjadikan Surabaya sebagai kota bisnis dengan membangkitkan semangat para hotelier. Sebab banyak dan bertambahnya hotel tersebut menjadikan kita semakin bersemangat dan kreatif mencari lead / tamu.
Namun du sisi lain, pemerintah juga harus bisa mendatangkan bisnis atau tamu untuk hotel di Surabaya (menjadi tanggungjawab bersama antara pemerintah dan hotelier).

UH: Apa pesan dan kesan Anda untuk para General Manager, leader dan para hotelier demi memajukan aspek pariwisata di Indonesia, khususnya Jawa Timur?

NN: Harusnya kita tak berbatas antar GM saja, semua unsur terkait lah yang harus membangun komunikasi yang baik, apalagi antar sesama pelaku perhotelan.

Jika hal ini sudah terjadi, maka berkolaborasi lah dalam mencari lead / bisnis di perhotelan ini secara sehat. Jika demikian, visi dan misi sesama pelaku bisnis perhotelan dan regulator akan berjalan searah. Dan akhirnya, hubungan baik antara satu dan lain akan selalu harmonis penuh kepercayaan.

Perjalanan karir Nita Narulita, GM The Square Hotel Surabaya

– Awal kerja di hotel tahun 1995 tepatnyadi Radisson Plaza Hotel (saat ini Surabaya Suite Hotel) selaku Fitnes Manager. Kemudian bergeser di Westin Surabaya (saat ini JW Marriot) di posisi yang sama.

– Tahun 2000, pindah di Jakarta tepatnya di Menara Peninsula selaku Sales Executive.

– Hotel Melia Purosani Jogja selaku Sales Manager Jakarta Seles Office (JSO)

– Hotel Marriot Medan selaku JSO dan Senior Sales Manager.

– Grand Sahid Jakarta, Director Of Convention – Kembali di Melia Hotel sebagai Director of Sales and Marketing (DoSM).

– Grand Tjokro Hotel Group selaku Region DOSM membawahi Pekanbaru, Klaten dan Jogja.

– Tahun 2014, kembali ke Jawa Timur menempuh karir di Java Paragon (DoSM)

-Crown Prince Hotel Surabaya (DoSM)

-Zoom Hotel Surabaya Jemursari (DoSM) 2015

-The Square Hotel (GM ) mulai tahum 2016 saat ini.

Leave a Reply