Pandemi Corona, Warga Bali Selenggarakan Penampahan Galungan di Rumah

Keluarga Made Wirna tetap menyiapkan menu khusus menjelang Hari Raya Galungan meski sedang dalam masa pandemi - WIB

ihgma.com – Sehari menjelang hari raya Galungan, umat Hindu di Nusantara melaksanakan penampahan Galungan. Momentum ini, selalu menjadi saat bagi seluruh anggota keluarga bersama bahu-membahu mempersiapkan berbagai sarana untuk pelaksanaan esok.

Pukul empat dini hari pagi tadi, keluarga Made Wirna telah sibuk mempersiapkan bahan masakan untuk keperluan ritual. Hari ini, Selasa (15/09) keluarga kecil itu akan membuat lawar getih. Daging babi serta bumbu yang telah dua hari lalu dibeli, kini mulai diolah.

Dilansir Kumparan.com Selasa 15/9/2020, Mengolah daging, selalu menjadi ciri khas pada momentum ini. Dalam banyak literatur kuno, seperti lontar Sundarigama, penampahan galungan menjadi saat untuk menetralisir energi yang disebut sang kala tiga, untuk kembali ke sumbernya.

Umumnya di Bali, babi selalu menjadi sarana saat penampahan galungan. Memotong babi saat penampahan memiliki makna untuk mengalahkan sad ripu atau enam sifat buruk dalam diri manusia.

Babi itu niyasa dari sifat rajas-tamas itu. Memotong hewan korban baik babi dan atau ayam itu niyasa mengalahkan Rajas-Tamas.

“Tak tak tak,” suara benturan pisau daging dengan telenan terdengar bersaut-sautan. Sementara itu, istri Made Wirna, Nyoman Suryati dan anak perempuanya, Ni Luh Damayanti sibuk metanding canang (merangkai-bunga serta sarana ritual lainya-red) untuk upacara esok hari. Penjor juga telah berdiri kemarin.

Anggota keluarga yang pada hari-hari biasanya sibuk dengan urusan masing-masing, kali ini tumpah ruah untuk menyongsong hari kemenangan dharma atas adharma itu.

“Kalau suasana COVID-19 seperti sekarang, kami upacaranya di rumah saja, tak bisa pulang kampung ke Karangasem,”terang Made Wirna.

Lawar merah dan ayam betutu menu spesial saat Galungan – WIB 

Ia mengakui, pandemi virus corona yang kini melonjak di Denpasar membuat keluarganya khawatir. Terlebih, ia was-was terhadap profesinya sebagai pedagang di pasar kini mulai sepi. “Takut sih, apalagi stok sarana upacara udah saya kurangi harganya, kayaknya sekarang lagi cobaan,” keluhnya.

Meski begitu, ia berharap situasi segera membaik dan klaster virus corona segera menurun.

“Semoga pemerintah cepet cari solusi saja, saya sebagai rakyat ya serba susah kalo kondisinya seperti ini,”harapnya.

Sebelum jam tengah hari, segala pekerjaan dapur akhirnya selesai. Walau situasi kini sedang sulit, dengan penuh pengharapan, keluarga itu menikmati kebersamaan Galungan dengan suka cita.

 

 

 

 

Leave a Reply