Pelaku Pariwisata Bersatu Memerangi Sampah Plastik

Oleh: Ketut Swabawa, CHA 

BALI, IHGMA.com – Tahun 2019 bisa jadi merupakan titik awal gerakan besar untuk mengurangi volume sampah plastik di Bali. Hal ini bisa kita lihat dari dukungan komitmen dari industri pariwisata melalui kesepakatan yang dideklarasikan oleh 23 asosiasi kepariwisataan di Bali terkait upaya pengurangan penggunaan barang dan peralatan berbahan plastik sekali pakai di unit kerja masing-masing.

Deklarasi bernama Sapta Kriyamana (tujuh langkah nyata perbaikan untuk masa depan) ditandatangani pada saat Symposium “Bali Host Meet Supporters” yang diselenggarakan pada 12 Desember 2018 di gedung Wiswa Sabha Kantor Gubernur Provinsi Bali. Kegiatan symposium dibuka oleh Wakil Gubernur Bali, DR. Ir. Tjokorda Oka Arta Ardana Sukawati, M.Si, dihadiri oleh perwakilan Dinas Pariwisata Kabupaten/Kota se-Bali disamping para peserta symposium dari kalangan praktisi, pengusaha, akademisi serta ketua asosiasi usaha, profesi dan lembaga pendidikan kepariwisataan di lansir dari Balitravel newspaper.

Menurut Yoga Iswara,BBA.,BBM.,MM.,CHA selaku Ketua Panitia Umum “Suksma Bali 2018”, agenda Symposium ini merupakan tahapan kedua rangkaian Suksma Bali secara keseluruhan dari tiga agenda utamanya. “Suksma Bali 2018 diwujudkan dalam tiga kegiatan yakni World Clean Up Day 2018 pada 15 September lalu, Symposium pada 12 Desember 2018 dan puncaknya pada Sukma Bali Night pada 15 Desember 2018. “Tahun ini kami fokuskan pada upaya pengurangan sampah plastik sekali pakai dan bersyukur telah disupport oleh berbagai lapisan masyarakat selain dari industri pariwisata sebagai motor penggerak utamanya”, demikian disampaikan oleh Yoga Iswara.

Sementara untuk kegiatan symposium menghasilkan banyak pemikiran, masukan serta kritik membangun terkait pembangunan kepariwisataan di Bali.

Ketua panitia symposium, K. Swabawa, CHA menjelaskan bahwa hasil utama symposium adalah deklarasi pengurangan penggunaan barang dan peralatan berbahan plastik sekali pakai dan hasil tambahannya dirangkum dalam buku putih symposium yang disampaikan kepada pemerintah sebagai referensi pengelolaan pembangunan kepariwisataan di Bali. “Sebelum symposium hari ini (12/12), kami telah menyelenggarakan focus group discussion pada 5 Desember 2018 lalu untuk menggodok materi terkait upaya menuju Bali bebas sampah plastik dan puncaknya melahirkan deklarasi bersama para ketua asosiasi kepariwisataan. Targetnya adalah unit usaha mulai mengganti beberapa jenis barang menggunakan barang yang ramah lingkungan yaitu 5 obyek meliputi air mineral kemasan botol plastik, straw plastik, papan bunga ucapan styrofoam, pembungkus makanan styrofoam dan kantong plastic,” tambah Swabawa yang juga bertindak selaku moderator pada symposium tersebut.

Sapta Kriyamana terdiri dari: 1) Mengurangi penggunaan barang dan peralatan berbahan plastik sekali pakai di tempat usaha dan kegiatan sehari-hari, 2) Mengganti secara bertahap barang dan peralatan plastik sekali pakai dengan bahan lain yang ramah lingkungan, 3) Bersama pemerintah, lembaga pendidikan, masyarakat dan media massa melakukan edukasi dan sosialisasi demi terwujudnya Bali bebas sampah plastik, 4) Mendorong pemerintah provinsi Bali dan seluruh kabupaten/kota se-Bali menerbitkan regulasi terkait pengurangan sampah plastik beserta penegakan hokum terkait, 5) Bersama pemerintah, lembaga pendidikan dan masyarakat melakukan upaya pengurangan penggunaan barang dan peralatan berbahan plastik sekali pakai, 6) Melakukan perubahan perilaku dengan lebih banyak menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan, 7) Menjaga keberlanjutan komitmen untuk senantiasa memperhatikan kelestarian alam Bali.

Sementara asosiasi yang menandatangani deklarasi tersebut diantaranya: PHRI Bali, BVA, IHGMA Bali, BHA, ASITA Bali, SIPCO Bali, PUTRI Bali, HPI Bali, UHA, IHKA, ICA, IFBEC, Bascomm, HFLA, UHSA, HRA, Hildiktipari Bali, HILLSI Bali, Asosiasi SMK Pariwisata Prov. Bali, Trash Hero Indonesia dan asosiasi lainnya.

Leave a Reply