Pelestarian Warisan Budaya Dan Tradisi Bali Dalam Dunia Perhotelan Pekan Perayaa

UBUD, IHGMA.com – Pekan Perayaan sebagai bentuk Merayakan Ulang Tahun Pura (Piodalan) di Alaya Resort Ubud

Sebagai bagian dari komitmen untuk melestarikan warisan budaya Bali, Alaya Resort Ubud baru-baru ini menyelenggarakan jadwal kegiatan keagamaan selama seminggu yang sejalan dengan konsep Tri Hita Karana. Resort ini selalu berusaha untuk memprioritaskan kebudayaan Bali dengan mengunjungi pura secara teratur (Tirta Yatra) dan melakukan upacara keagamaan yang relevan sesuai dengan kalender Bali. Upaya berkelanjutan ini tidak luput dari perhatian publik sehingga dalam upaya pelestarian budaya Bali Alaya Resort Ubud telah diakui melalui penghargaan NOW Bali Awards 2019 sebagai perusahaan yang menghormati nilai-nilai kebudayaan Bali melalui kegiatan Tirta Yatra secara berkesinambungan.

Alaya Resort Ubud bersamaan dengan Piodolan (perayaan ulang tahun Pura) dari tanggal 11 hingga 17 April 2019 telah berhasil melakukan serangkaian kegiatan “Pekan Perayaan –Pura”. Acara ini melibatkan serangkaian acara menarik termasuk Kompetisi Macapat & Mekidung, Kompetisi Gebogan, Kompetisi Mereresik, Ngias Pelinggih, Darma Wecana dan Tirta Yatra yang menjadi puncak dalam Upacara Piodalan itu sendiri. Seluruh karyawan Alaya sangat antusias kegiatan ini. Tidak hanya waktu yang mereka sumbang tetapi juga bakat seni mereka untuk perayaan ini yang tercermin dari pertunjukan tari Rejang Renteng dan Baris Jago.

Lomba Mekidung dan Macapat

Menjelang perayaan upacara pura, Alaya Resort Ubud melakukan kegiatan ritual Bali yang disebut “Mekidung dan Macapat” pada hari Kamis, 11 April 2019 di Bale. Mekidung mengacu pada pertunjukan lagu-lagu Jawa kuno / nyanyian ibadah, yang memiliki makna tradisional dan agama. Macapat berasal dari kombinasi kata “maca papat papat”. Itu ketika sekelompok kecil pelajar terlibat dalam dialog agama dan berbagi ide satu sama lain.

Lomba Gebogan

Alaya Resort Ubud juga mengadakan lomba Gebogan antar-departemen pada hari Selasa, 16 April 2019 di Bale. Tradisi Bali ini dilakukan untuk memperkuat kerjasama tim dan meningkatkan solidaritas antara semua karyawan. Gebogan adalah persembahan khas Bali berbentuk segitiga melambangkan Gunung Agung yang dirancang sedemikian rupa untuk disajikan kepada Tuhan Yang Maha Esa sebagai pelengkap persembahan. Gebogan ini terdiri dari banyak jenis buah-buahan, kue, bunga, dan ornamen lainnya yang disusun berlapis-lapis di atas dudukan berukir. Gebogan yang dibangun dengan kerumitan tersendiri sebagai persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk ‘dikirim’ ke pura melalui parade wanita yang membawa gebogan di atas kepala mereka. Gebogan juga berfungsi sebagai bentuk hiasan pada upacara tradisional seperti pernikahan dan ritual perayaan.

Upacara Piodalan

Dengan semangat menyatukan budaya Bali, Alaya Resort Ubud menyelenggarakan Piodalan (upacara pemujaan) pada hari Rabu, 17 April 2019 di area Padmasana. Acara ini merupakan upacara keagamaan terkait dengan kelahiran tempat suci / tempat tinggal sesuai dengan kalender Bali. Mayoritas Hindu Bali melakukan upacara seperti itu setiap tahun untuk menunjukkan bahwa mereka berterima kasih atas semua yang telah diberikan kepada mereka, sambil mencari berkah di masa depan.

Upacara Piodalan di Alaya Resort Ubud dibuka dengan Tari Rejang Renteng yang dibawakan oleh semua karyawan wanita yang sudah menikah. Ini adalah variasi dari Tarian Rejang – tarian sakral yang dilakukan sebagai awal dari semua jenis ritual keagamaan. Tidak seperti tarian Bali lainnya, para penarinya mengenakan pakaian kebaya lengan panjang putih sederhana (wanita atas), dengan sarung kuning dan selempang diikatkan di pinggang. Warna-warna khusus ini mewakili Tuhan: putih mewakili Dewa Iswara yang melindungi timur, sedangkan kuning mewakili Mahadeva, pelindung barat. Filosofi ini berfokus pada upaya untuk hidup seimbang dengan merangkul matahari terbit dan terbenam, serta siang dan malam. Sebagai penutupan upacara, sekelompok anggota karyawan pria menampilkan Tarian Baris Jago sebagai penutup untuk upacara tersebut.

Dharma Wacana

Komponen penting lainnya selama kegiatan minggu ini adalah Dharma Wacana, sebuah khotbah keagamaan untuk semua karyawan yang beragama Hindu di Alaya Resort Ubud. Dharma Wacana Ini disampaikan oleh Bapak Ida Rsi Acharya Waisnawa Agni Budha Wisesanatha, mantan GM di Santika Hotels dan pemilik Zeti Management. Dharma Wacana berfungsi untuk menerangi dan menginspirasi pengikut melalui ajaran Hindu tentang spiritualitas. Pembicaraan ini dimaksudkan untuk membantu orang memenuhi kewajiban agama dan komunitas mereka untuk menjalani kehidupan yang lebih harmonis.

Tirta Yatra

Ketika pekan perayaan Pura mendekati akhir, manajemen dan staf Alaya Resort Ubud berpartisipasi dalam kegiatan keagamaan Tirta Yatra pada tanggal 23 & 24 April 2019 di Nusa Penida. Berasal dari bahasa Sanskerta kuno, istilah tirta yatra secara harfiah berarti “ziarah air suci”; sebuah perjalanan suci (biasanya jarak yang cukup jauh) untuk mencari dan atau mengumpulkan air suci. Saat ini, di Bali, makna aslinya agak hilang dan tirta yatra berarti hanya ziarah spiritual.

Tirta yatra, tidak seperti perjalanan spiritual oleh orang-orang suci dari zaman dulu, sekarang Tirta Yatra dapat dilakukan oleh siapa pun dari segala kasta dan status sosial ekonomi. Orang Bali percaya bahwa titra yatra membawa seseorang lebih dekat kepada Tuhan, juga sesama peziarah. Ini dianggap sebagai bagian penting dari filosofi Tri Hita Karana, yang merupakan keseimbangan antara manusia, Tuhan dan alam.

Selama acara keagamaan ini, tim Alaya mengunjungi sejumlah pura di Nusa Penida; Pura Dalem Ped, Pura Puncak Mundi, Pura Goa Giri Putri, Pura Dalem Bungkut. Semua peserta berdoa bersama dan kemudian mengambil bagian dalam upacara pembersihan ritual yang disebut melukat untuk memurnikan tubuh, pikiran dan jiwa dengan air suci. Kemudian semua orang yang hadir berkumpul untuk membersihkan area bait suci. Sumbangan juga diberikan untuk membantu memelihara pura dan fasilitasnya (toilet, parkir, dll). Mengingat popularitas wisata spiritual yang semakin meningkat dan banyaknya peziarah yang kini memilih untuk berdoa di Nusa Penida, sumbangan ini dengan penuh syukur diterima oleh pendeta yang tinggal di pura itu. Sebagai penutup kegiatan keagamaan ini, tim Alaya menyelesaikan acara ini dengan “Mekidung” (bernyanyi dalam bahasa Bali), Menari dan Dharma Tula.

Selama pekan kegiatan kebudayaan ini, Alaya Resort Ubud mengundang semua tamu in-house serta mitra media untuk berpartisipasi dalam festival yang unik ini. Mereka diberi kesempatan untuk mengenakan sarung tradisional dan berdoa bersama karyawan untuk mengucapkan terima kasih atas semua berkat yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Program berkesinambungan ini adalah upaya memperkuat komitmen Alaya Hotels and Resots dalam konsep Tri Hita Karana, sebuah filosofi gaya hidup Hindu Bali yang semuanya tentang menjaga keseimbangan yang harmonis antara manusia (Pawongan), lingkungan (Palemahan) dan Tuhan Yang Maha Esa (Parahyangan).

Leave a Reply