Pengusaha Hotel Bali Megap-Megap, Hidup Segan Mati Tak Mau

Foto: Hotel Mewah Tempat Kim Kardashian Menginap di Bali. (Dok. Soori Bali)

JAKARTA, ihgma.com – Industri pariwisata di Bali secara resmi sudah kembali dibuka untuk wisatawan domestik sejak 31 Juli lalu. Namun, pengusaha hotel masih pesimistis angka okupansi sewa kamar hotel langsung melonjak tinggi.

Seperti dilansir CNBCIndonesia.com Jumat 7/8/2020, Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya menilai hingga akhir tahun mendatang, angka okupansi hotel masih di bawah 10%.

Tingkat okupansi sebesar itu belum mampu menutupi operasional hotel. Minimal, biaya untuk operasional hotel bakal tertutup jika okupansi mencapai angka 40%. Pelaku usaha hotel berharap ada bantuan dari pemerintah untuk menopang operasional saat masa transisi pembukaan pariwisata Bali.

“Hitungan saya untuk working capital (modal kerja) saja, misal bayar gaji pegawai, menghindari dampak gelombang pariwisata besar-besaran dan operasional, jadi bayar listrik contohnya, Rp 7-10 triliun dibutuhkan untuk industri (pariwisata Bali) agar survive sampai akhir Desember,” kata Agung Ngurah Rai kepada CNBC Indonesia, Jumat (7/8).

Dana tersebut diperkirakan bakal memperpanjang napas industri pariwisata di Bali. Namun, pelaku usaha juga tetap bisa memanfaatkan sumber peluang yang ada. Selain menarik perhatian masyarakat domestik, bisa juga memanfaatkan Warga Negara Asing yang masih bertahan di Pulau Dewata. Jika belanja mereka bisa besar, maka perputaran uang di Bali pun bisa besar.

“Jangan lupa, ada 7 ribu WNA di Bali. Ini juga buka peluang,” jelas Agung Ngurah Rai.

Adapun WNA dari luar Bali yang ingin berwisata baru bisa diizinkan pada 11 September mendatang. Yakni setelah dibuka untuk masyarakat lokal Bali pada tanggal 9 Juli dan untuk untuk wisatawan domestik pada 31 Juli 2020.

Leave a Reply