Peran Pemerintah Daerah Dalam Pengembangan Desa Wisata Kabupaten Bandung

BANDUNG, IHGMA.com – Oleh: Dino Gustav Leonandry & Maskarto Lucky Nara Rosmadi.
maskartolucky@gmail.com

Abstract Leonandry & Rosmadi, 2018. “The Role Of Local Governments In The Development Of The Tourist Village Of Bandung Regency Keywords: Quality Of Service”. STP Trisakti Jakarta, STIE Kridatama Bandung. Tourist village is one of the supporting and supporting factors in improving people’s welfare. Potentials owned by the village culture, natural beauty, and creative industries be used as capital to increase people’s income. One of the tourism in Bandung Regency is Mekarsari village, Pasirjambu Subdistrict. Mekarsari tourism village is unlikely to develop without the attention of various parties including local government. The purpose of this research is to know how far the role of local government in supporting Mekarsari tourism village destination. The research method used is descriptive analytical with qualitative approach. Data collection techniques consist of primary data obtained from respondents and secondary data in the form of literature, scientific journals both nationally and internationally. From the results of research conducted obtained the results that mekarsari tourism village to grow and develop with the support of surrounding communities in an effort to improve welfare. The role of the government and the banking world is less contributing in developing the village of Mekarsari as a tourist village. Keywords: Village Tourism, Cisondari Village, Local government.

1. Pendahuluan Pariwisata mempunyai peranan penting dalam pembangunan nasional, yaitu sebagai penghasil devisa, meratakan dan meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan, memperkokoh persatuan dan kesatuan, serta mengenal budaya bangsa. Pembangunan kepariwisataan dilakukan secara menyeluruh dan terpadu dengan sector-sektor pembangunan lainnya serta antara berbagai usaha kepariwisataan yang kecil, menengah dan besar agar saling menunjang (Astuti, 2016:113).

Perubahan pola perjalanan wisatawan tersebut secara otomatis mendorong pola konsumsi wisatawan (customer behaviour pattern) terhadap produk wisata atau destinasi pariwisata yang tidak lagi fokus pada 3S (sun, sea, dan sand) atau destinasi wisata yang populer, namun berkembang lebih luas pada beragam jenis kegiatan wisata yang berorientasi pada pengenalan terhadap alam atau budaya lokal dengan motivasi untuk pengayaan wawasan, pengembangan diri serta aktualisasi diri, dengan bentuk-bentuk wisata petualangan seperti hiking, trekking, wisata minat khusus (bird watching, wild life viewing), wisata budaya dan desa wisata (tourism village) (Prasiasa, 2017:104). Desa wisata secara internasional dikenal dengan berbagai istilahnya seperti village tourism, rural tourism, farm tourism, atau agro tourism (Leu, 1992:212; Naisbit, 1994:137; Dolors, 1995:49; Iakovidou, 1995:87; Oppermann, 1996:212; Dowling, 1996:220).

(70 Ji@P Vol. 5 No. 1 Januari – Juli 2018 ISSN. 2355-4223)

Pembangunan desa wisata merupakan realisasi dari pelaksanaan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 Tentang Otonomi Daerah. Dalam pelaksanaanya, apa yangdiamanatkan dalam undang-undang tersebut belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh masyarakat luas tetapi hanya dinikmati oleh sekelompok orang saja. Pengembangan desa wisata (tourism village) merupakan salah satu alternatif yang dipandang sangat strategisuntuk menjawab sejumlah isu global dan nasional terkait dengan pariwisata seperti konservasi lingkungan, pariwisata berkelanjutan, pariwisata berbasis masyarakat, komunitas, serta budaya lokal tersebut.

Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung merupakan satu dari sepuluh desa yang ada di Kabupaten Bandung yang dikembangkan menjadi desa wisata. Potensi yang dimiliki Desa Mekarsari yang umumnya bermata pencaharian sebagai petani dengan keramahtamahan masyarakatnya menjadi modal utama dalam pengembangan desa wisata. Potensi dari Kecamatan Pasirjambu Pasirjambu terdiri atas perkebunan, pertanian, dan kehutanan, yang meliputi 10 desa yang cocok untuk dijadikan kawasan agrowisata. Nuryanti (1993) berpendapat, bahwa desa wisata merupakan model pengembangan pariwisata yang mengintegrasikan atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung dalam suatu struktur kehidupan masyarakat serta menyatu dengan tata cara dan tradisi setempat.

Sementara Priasukamana dan Mulyadi (2001:38) mengatakan, bahwa desa wisata adalah suatu kawasan pedesaan yang menawarkan keseluruhan suasana yang mencerminkan keaslian pedesaan baik dari kehidupan sosila ekonomi, sosial budaya, adat istiadat,
keseharian, memiliki arsitektur bangunan dan struktur tata ruang desa yang khas, atau kegiatan perekonomian yang unik dan menarik serta mempunyai potensi untuk dikembanggkannya berbagai komponen kepariwisataan, misalnya atraksi, akomodasi,
makanan-minuman, dan kebutuhan wisata lainnya. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka diperlukan penelitian secara mendalam berkaitan dengan peran pemerintah daerah dalam pengembangan desa wisata di Desa Mekarsari Kabupaten Bandung. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauhmana peran pemerintah daerah dalam pengembangan desa wisata di Desa Mekarsari Kabupaten Bandung.

71 Ji@P Vol. 5 No. 1 Januari – Juli 2018 ISSN. 2355-4223

2. Metodologi

Penelitian dilakukan di Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif analisis dengan pendekatan kualitatif. Data primer diperoleh dari wawancara dengan informan kunci, informan maupun
pengamatan langsung oleh peneliti di lokasi penelitian, sedangkan data sekunder diperoleh dari sumber-sumber literatur, dinas pariwisata Kabupaten Bandung, dan sumber pustaka. Penelitian ini tergolong dalam cross-section research, karena mengambil satu bagian dari gejala pada satu waktu tertentu. Penelitian ini dilakukan dalam waktu tertentu dan hanya dilakukan dalam satu kali waktu saja dan tidak akan melakukan penelitian lain di waktu yang berbeda untuk dijadikan perbandingan.

3. Hasil dan Pembahasan

Keberadaan Desa Wisata dengan segala produk wisatanya yang bernuansa pedesaan dan karakteristiknya serta orisinalitas yang melingkupi desa itu akan memiliki peluang pasar yang tidak kecil, walaupun uang yang dibelanjakan wisatawan termasuk kecil tetapi
dapat diterima langsung oleh masyarakat setempat melalui berbagai produk yang dapat dijual (Purwanggono, 2009:2). Beberapa destinasi wisata yang terletak di Desa Mekarsari Kecamatan Pasirjambu Kabupaten Bandung dapat dilihat pada gambar berikut:

Gambar 1. Hamparan perkebunan teh Dari gambar 1 di atas dapat dijelaskan, bahwa Desa Mekarsari memiliki daya tarik tersendiri bagi para wisatawan dengan pemandangan alamnya yang indah. Beberapa destinasi dapat diperoleh di Desa Mekarsari ini. Penunjang lainnya adalah penginapan di 72 Ji@P Vol. 5 No. 1 Januari – Juli 2018 ISSN. 2355-4223 lokasi wisata yang cukup mengakomodasi kepent 73 Ji@P Vol. 5 No. 1 Januari – Juli 2018 ISSN. 2355-4223 kurang mendapat dukungan. Hal ini berdampak minimnya jumlah kunjungan wisatawan. Selain itu kegiatan promosi sebagian besar dilakukan oleh masyarakat desa Mekarsari secara swadaya sedangkan peran Dinas Pariwisata dan Kebudayaan belum nampak terutama dalam memposting desa wisata khususnya desa Mekarsari. Dari penelitian yang dilakukan oleh Bashar dan Ajloni (2012), Chiu et al. (2016), Rajaratnam dan Nair (2015), Chang dan Tsai (2016), dan Akhoondnejad (2016) dapat disimpulkan, bahwa bahwa keberadaan desa wisata bagi para wisatawan memiliki
pandangan yang berbeda-beda dari mulai motivasi dibangunya desa wisata, citra desa wisata, dampak bagi wisatawan, dan kebudayaan dengan kehadiran desa wisata dengan integrasi budaya sebagai faktor utama yang mempengaruhi daya tarik pariwisata.

4. Kesimpulan

Keberadaan desa wisata merupakan bagian dari program pemerintah dalam rangka meningkatkan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat yang berada di pedesaan. Kemajuan teknologi informasi dapat dimanfaatkan untuk mempercepat promosi keberadaan desa wisata agar dapat dikunjungi. Faktor infrastruktur, permodalan, dan sumber daya manusia merupakan faktor penghambat dari proses pengembangan potensi desa wisata khususnya di Kabupaten Bandung. Peran pemerintah daerah harus segera hadir di masyarakat desa wisata agar kesejahteraan masyarakat dapat segera tercapai.

Daftar Pustaka
Akhoondnejad, A. (2016). Tourist Loyalty to a Local Culture Event: the Case of Turkmen
Handicrafts Festival. Journal of Tourism Management. 52, 468-477.
Astuti, Ni Nyoman Sri. (2016). Strategi Pengembangan Potensi Desa Mangesta Sebagai
Desa Wisata Berbasis Ekowisata. Jurnal Sosial dan Humaniora, 6 (1), 113-122.
Bashar, Ajloni, A.A.A. (2012). Motivating Foreign Tourist to Visit The Rural Site in
Jordan, Village of Petra. Australian Journal of Business and Management Research. 2 (5), 1-7.
Chang, F.H., Tsai, C.Y. (2016). Influences of The Cultural Implications and Tourism
Attractiveness of Festival Tourism on Tourist. Journal of Business and Management
Studies. 2 (1), 1-10.
Chiu, W, Zeng, S., Cheng, P.S.T. (2016). The Influence of Destination Image and Tourist
Satisfaction on Tourist Loyalty: A Case Study of Chinese Tourist in Korea.
International Journal of Culture, Tourism and Hospitality Research. 10 (2), 223-234.
Dolors, M.G., Canoves., Valdovinos. (1995). Farm Tourism, Gender and The Environment
in Spain. Annals of Tourism Research. 22 (2), 267-282. 74
Ji@P Vol. 5 No. 1 Januari – Juli 2018 ISSN. 2355-4223
Dowling, R. (1996). Ecotourism in Thailand. Annals of Tourism Research. 23 (2), 267- 282.
Iakovidou, O. (1995). The Female Gender in Greek Agrotourism. Annals of Tourism
Research. 22 (2), 481-484.
Leu, W. (1992). The Swiss Experience. Dalam: Nuryanti, editor. Universal Tourism
Enriching or Degrading Culture. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. pp
132-138.
Naisbitt, J. (1995). Global Paradox. Jakarta: Binapura Aksara.
Nuryanti, W. (1993). Concept, Perspective and Challenges, makalah bagian dari Laporan
Konferensi Internasional mengenai Pariwisata Budaya. Yogyakarta: Gadjah Mada
University. Oppermann, M. (1996). Rural Tourism in Southern Germany. Annals of Tourism
Reserach. 23 (1), 86-102.
Prasiasa, Dewa Putu Oka. (2017). Strategi Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat
Desa Wisata Timbrah Kecamatan Karangasem Kabupaten Karangasem. Prosiding
Seminar Nasional Hasil Penelitian-Denpasar, 103-126.
Priasukmana, Soetarso, dan Mulyadin. (2001). Pembangunan Desa Wisata: Pelaksanaan
Undang-undang Otonomi Daerah. Info Sosial Ekonomi, 2 (1), 37-44. Purwanggono, D. (2009). Konsep Desa Wisata. Jurnal Wisata Indonesia, 4 (2), 1-8.
Rajaratnam, S.D., Nair, V. (2015). Destination Quality an Tourist’ Behavioural Intentions:
Rural Tourist Destinations in Malaysia. Journal Emerald Worldwide Hospitality and
Tourism Themes. 7 (5), 463-472.

Leave a Reply