Protokol Kesehatan di Hotel dan Restoran Jamin Kenyamanan Konsumen

Ihgma.com – Sejumlah hotel dan restoran memastikan layanannya berbasis pada protokol kesehatan. Ini dinilai sebagai kunci menjaga kepercayaan konsumen dan kelangsungan bisnis selama pandemi Covid-19.

Director of Marketing Communications Fairmont Jakarta Felicia Setiawan mengatakan, protokol yang berlaku disesuaikan dengan protokol dari pemerintah. Selain itu, sebagai bagian dari jaringan AccorHotels, Fairmont, juga menggunakan protokol kebersihan, kesehatan, dan keamanan dari kantor pusat.

”Protokol kebersihan, kesehatan, dan keamanan merupakan respons atas pandemi. Hotel harus melalui proses sertifikasi terlebih dahulu sebelum memperoleh titel ALL Safe (dari kantor pusat). Kami juga memperbarui sertifikasi HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Point) setiap tahun,” kata Felicia saat dihubungi dari Jakarta, Minggu (21/6/2020).

Beberapa protokol kesehatan yang dilakukan, antara lain, mengatur jarak tempat duduk dan antrean pengunjung, mewajibkan semua tamu dan karyawan bermasker, dan meningkatkan frekuensi pembersihan hotel. Untuk mengurangi potensi penyebaran virus, Fairmont membatasi operasi sejumlah fasilitas. Area kolam renang dan pusat kebugaran terbatas untuk tamu yang menginap, sedangkan fasilitas spa masih ditutup.

Pengaturan ini sesuai dengan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 382 Tahun 2020 yang terbit Jumat (19/6/2020). Protokol itu mengatur ketentuan pencegahan dan pengendalian Covid-19 di tempat umum, termasuk hotel dan restoran.

Director of Sales and Marketing Hotel Mulia Senayan Rully Rachman mengatakan, protokol kesehatan diterapkan sejak Februari 2020, sebelum Indonesia menyatakan ada kasus Covid-19. Protokol tersebut dikembangkan dan kini berlaku untuk semua karyawan dan tamu.

Beberapa protokol itu mencakup pemeriksaan suhu badan dengan kamera termal, membersihkan koper tamu dengan cairan disinfektan, dan membersihkan kamar tamu secara berkala. Partisi transparan juga dipasang di beberapa tempat, seperti restoran dan meja resepsionis.

”Staf front desk yang bertugas harus tinggal di hotel dan dikarantina selama 14 hari. Staf baru bisa terjun melayani tamu ketika dinyatakan sehat,” ujar Rully.

Keselamatan semua

Rully mengatakan, protokol kesehatan penting untuk menjaga keselamatan tamu dan karyawan hotel. Penerapan protokol kesehatan juga membuat tamu merasa aman dan nyaman untuk berkunjung.

”Ini juga langkah proteksi citra hotel. Kepercayaan konsumen sangat penting di masa ini. Protokol yang kami jalani sejak Februari mungkin dipandang aneh mulanya. Namun, kini langkah itu diapresiasi,” katanya.

Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Maulana Yusran mengatakan, hotel dan restoran harus bisa meyakinkan publik bahwa tempat usaha mereka aman dari virus. Hal ini akan berdampak pada keberlangsungan bisnis. Itu sebabnya promosi sejumlah hotel kini menitikberatkan pada aspek kesehatan dan kebersihan.

Ia menambahkan, ada tren staycation yang berkembang di masyarakat selama pandemi. Staycation adalah berlibur dengan menginap di hotel dalam kota. Tren itu bisa dimanfaatkan pelaku industri perhotelan dengan memastikan protokol yang ketat.

Salah satu pekerja kesehatan di Jakarta, Winda (27), mengaku tenang menginap di hotel yang menerapkan protokol kesehatan. Ia bisa berlibur sejenak selama sehari semalam di dalam kota tanpa perasaan waswas berlebih.

”Suhu tubuh saya dan teman-teman diperiksa saat tiba di hotel. Kami juga diminta mengisi dokumen yang menanyakan riwayat kontak dengan pasien Covid-19, gejala sakit, dan sebagainya. Kamar hotel kami juga dibersihkan dengan disinfektan sebelum kami tiba,” kata Winda.(kompas)

Leave a Reply