Rai Suryawijaya : We Love Bali Berikan Angin Segar Bagi Pariwisata Bali

Foto: Pertemuan Implementasi Protokol CHSE melalui program ‘We Love Bali’.

ihgma.com – Ketua PHRI Badung, I Gusti Agung Ngurah Rai Suryawijaya,  mengapresiasi program “We Love Bali” yang didanai Kemenparekraf. “Saya pun mengusulkan 14 program, dan 13 program telah disetujui. Tentu ini akan memberikan dampak sangat positif kepada kita semua,” katanya di Denpasar, Selasa (22/9/2020).

Rai, sapaan akrabnya, mengatakan telah banyak dilakukan kajian dan meeting bersama sebelum program ini diluncurkan. Tujuannya memberikan edukasi, terhadap penerapan protokol kesehatan sesuai CHSE di destinasi. Serta melakukan pengawasan penerapan protokol di DTW seperti dilansir TribunBali Selasa (22/9).

“Nanti kami akan berikan cek list kepada peserta yang akan keliling Bali itu. Semoga ini memberikan sedikit dampak ekonomi dan angin segar bagi Bali,” katanya. Apalagi nanti peserta, akan memposting semua kegiatannya sebagai dampak bahwa Bali siap dengan protokol kesehatan dalam mencegah Covid-19.

Share di media sosial dari 4.400 orang ini, diharapkan memberikan dampak informasi yang luar biasa. Rai menjelaskan, sejak dibuka untuk wisatawan domestik (wisdom). Kunjungan melalui Bandara Ngurah Rai telah meningkat. Sampai 20 September 2020, jumlah wisdom yang datang melalui bandara mencapai 2.500-5.000 orang per hari.

“Namun tentu ini belum berdampak signifikan bagi pariwisata Bali, apalagi lama tinggal masih antara 2-4 hari saja. Tentu saja kami harapkan kedatangan wisman juga segera ke Bali,” katanya. Tentunya dengan protokol kesehatan sesuai CHSE yang ketat.

Rai yang juga pengusaha hotel, mengaku sangat berat dengan kondisi ini. “Sudah 6 bulan Bali mati suri, dan pengusaha sangat berat. Karena kekuatan pengusaha di pariwisata hanya berkisar 3 bulan. Dengan dibukanya Bali untuk wisdom bisa mengisi single digit 5-9 persen,” sebutnya.

Rai pun sebelumnya, mengatakan pengusaha hotel perlu bailout atau soft loan sebagai modal jika nanti pariwisata kembali dibuka normal. Ia sangat mengapresiasi tindakan Kemenparekraf yang gencar melihat situasi sulit ini, dan membuat program We Love Bali. Ia juga mengapresiasi relaksasi kredit dari bank, serta keringanan lainnya.

Ia menyebutkan, komponan gaji pegawai memakan biaya operasional sampai 20 persen. Sementara konsumsi listrik 10 persen, sehingga relaksasi sangat membantu pengusaha di situasi sulit saat ini. “Sebelum Covid masuk Bali sudah ada 20 hotel on sale, setelah Covid masuk 47an hotel on sale,” sebutnya.

Hal ini karena bisnis pariwisata, adalah bisnis yang sangat sensitif. Maka dari itu keamanan, dan kepercayaan sangat dibutuhkan. “Semoga segera dapat vaksin dan obatnya,” imbuhnya. Ia berharap dalam situasi sulit ini, semua pihak bisa bekerjasama dengan tetap menjaga protokol kesehatan dan tidak membuat onar.

Sehingga pariwisata Bali bisa pulih sedikit demi sedikit, dengan terus landainya korban Covid-19. Ia mengamini, memang banyak negara belum memberikan izin pada warganya untuk plesiran ke luar negeri khususnya ke Indonesia dan Bali. Apalagi 215 negara dalam kondisi krisis akibat pandemi ini. Travel bubble diharapkan menjadi solusi saat situasi sudah mulai kian membaik.

 

 

Leave a Reply