Rela Tutup Sejumlah Hotel Bintang 5, Pendapatan Emiten ini Naik Tipis

Ihgma.com – PT Surya Semesta Internusa Tbk mengakui, wabah Covid-19 turut mempengaruhi kinerja keuangan perseroan. Khususnya di unit bisnis perhotelan karena dampak penerapan physical distancing, pembatasan perjalanan, dan penutupan bandara untuk penerbangan komersial baik di Jakarta dan Bali.

Mengutip keterangan resmi yang diterima oleh JawaPos.com, manajemen telah melihat tingkat hunian hotel turun secara dramatis. Sehingga mengakibatkan penurunan yang signifikan sekitar 50 hingga 60 persen dari pendapatan perhotelan untuk periode kuartal kedua tahun ini.

“Perusahaan telah menutup hotel bintang 5 Gran Melia Jakarta (GMJ), Hotel Melia Bali (MBH) dan Banyan Tree Ungasan Resort (BTUR) sejak akhir Maret atau awal April hingga diperkirakan akhir Mei 2020,” tulisnya, Rabu (20/5).

Manajemen juga telah melakukan beberapa langkah penghematan biaya untuk mempertahankan arus kas negatif. Antara lain, melakukan pengurangan gaji dan upah melalui cuti yang dibayar, diikuti oleh cuti yang tidak dibayar untuk sebagian besar karyawan.

Selain itu, pengurangan biaya utilitas, negosiasi ulang kontrak outsourcing melalui diskon atau perpanjangan periode kontrak, serta mengurangi biaya tetap lainnya. Semua ini menghasilkan penghematan biaya sekitar 30 persen untuk bulan April dan Mei 2020.

Selanjutnya, manajemen SSIA juga telah bernegosiasi dengan pemberi pinjaman tentang pengurangan suku bunga dan perpanjangan pembayaran pokok menjadi 1 tahun untuk tahun ini. Perusahaan berharap industri perhotelan akan mulai pulih di periode kuartal-III 2020.

Meskipun demikian, perseroan dapat membukukan total pendapatan sebesar Rp 882 miliar pada kuartal-I 2020. Capaian itu mengalami peningkatan 7,1 persen bila dibanding pendapatan Rp 823,7 miliar pada kuartal-I tahun lalu.

Adapun peningkatan pendapatan terutama disebabkan dari segmen properti dan konstruksi masing-masing naik 20 persen dan 11,8 persen. Sehingga dapat menopang bisnis dari segmen perhotelan yang pendapatannya turun 15,1 persen, karena tingkat hunian menurun pada bulan Februari dan Maret 2020.

Posisi pendapatan yang tidak naik terlalu tajam, membuat laba kotor di kuartal-I 2020 menjadi Rp 179,9 miliar atau turun 5,1 persen dari laba kotor pada kuartal-I 2019 yang sebesar Rp 189,5 miliar. Sementara itu, EBITDA perusahaan mencapai Rp 64,1 miliar, atau 11,7 persen lebih rendah dari EBITDA kuartal-I 2019 yang sebesar Rp 72,6 miliar.

Perusahaan berkode saham SSIA ini juga menggenggam kerugian bersih sebesar Rp 17,4 miliar, meningkat dari posisi Rp 10,9 miliar pada periode sama tahun lalu. Hal itu dikarenakan kenaikan beban bunga sekitar 23,7 persen dari Rp 38,0 miliar menjadi Rp 47,0 miliar.

Di sisi lain, kas perusahaan juga mengalami penurunan 9,9 persen menjadi Rp 1,375 triliun, dari posisi Rp 1,52 triliun. Dengan begitu, posisi aset perusahaan mengalami kenaikan yang tidak terlalu tajam menjadi Rp 8,174 triliun, dari posisi Rp 8,092 triliun di periode yang sama tahun lalu. Adapun posisi liabilitas dan ekuitas masing-masing menjadi Rp 3,66 triliun dan Rp 3,98 triliun.(jawapos)

Leave a Reply