Robotic Human Leadership, apa itu??? (Bagian Ke-4 / Terakhir)

BALI, IHGMA.com – Menjawab Tantangan Era Revolusi Industri 4.0 dalam Kepemimpinan di Kepariwisataan.

Selamat Tahun Baru 2019, sahabat pariwisata Indonesia !!

Tahun baru, semangat baru… dan tantangan yang selalu baru. Semakin mengingatkan kita bahwa tidak ada ruang untuk menghindar dari gempuran perubahan jaman, yang kali ini memasuki era revolusi industri 4.0.

Setelah 3 edisi pada periode 2018 yang baru saja berlalu, Pada bagian ke-4 dari tulisan ini saya ingin membahas suatu kalimat singkat (mungkin sebagian orang menganggapnya cukup sederhana) namun mengandung motivasi sangat luarbiasa sebagai refleksi diri;

“… competent peoples are generally confident, but confident peoples are generally not competent enough…”

Kalimat di atas diunggah oleh Prof Thomas Chamorro (University College London) dalam The Harvard Business Review (2014). Memang benar kompetensi merupakan dasar penilaian yang dilakukan untuk mengetahui pengetahuan – keahlian – sikap seseorang. Dan kedua hal ini, kompetensi dan kepercayaan diri, dapat melekat pada satu pribadi seseorang namun dapat menyamarkannya apabila orang yang menghadapinya tidak jeli dalam menyerap makna holistik dari penampilan seseorang.

Pemimpin perusahaan dengan konsep kreatif Robotic Human Leadership disarankan untuk mampu memilah kedua sisi tersebut menjadi bagian-bagian yang mesti ditinjau secara holistic. 33% dari segmen kompetensi dapat ditelusuri untuk melihat tingkat confidence sesorang lebih dominan ke arah mana. Apakah kemurnian kepercayaan diri akibat keahlian yang dimiliki atau mengandung pesan berlebihan yang kita kenal sebagai over-confidence. Perlu dicatat bahwa kepercayaan diri sangat dibutuhkan namun dapat diukur berdasarkan relevansi terhadap argumentasi dan essential content yang tersirat dalam working performance.

Jika dikaitkan dengan motivation circle dalam Human Resources Development maka konsentrasi pada Competence dan Confidence dapat dimulai sejak proses rekrutmen di awal. Melalui proses file screening dan dilanjutkan dengan interview kita dapat mengukur tingkat kedua parameter tersebut. Berdasarkan pertimbangan manajemen, kompetensi masih dapat dibina dan dieskalasi pada kandidat yang memiliki talenta dan personality yang baik, namun kepercayaan diri sejak awal harus mendapat perhatian serius agar tidak sampai tertipu oleh upaya kamuflase dan afirmasi diri. Konsep robotic yang dapat diimplementasikan di sini adalah “Augmentation” , “Transformation” dan “Filtration”. Apa dan bagaimana aplikasinya???

  1. Augmentation; secara kreatif mulai menambahkan elemen-elemen pada proses penilaian awal proses rekruitmen termasuk juga dalam menilai kinerja karyawan. Bukan hanya pada subject yang menjadi penilaian namun juga parameter yang dipakai hendaknya secara substansial memberikan indikasi yang real dan terintegrasi dengan periode penilaian pada periode sebelumnya.
  2. Transformation; transformasi di sini membahas 2 hal yaitu perubahan metode rekruitmen yang terbarukan serta proses pemindahan tahapan status karyawan berdasar kompetensinya yang diketahui dalam regular employee appraisal.
  3. Filtration; melakukan proses penyaringan yang fair, terukur dan cermat. Hindari metode-metode lama yang masih memasukkan ‘feeling’ sebagai pendorong pengambilan keputusan. Sesuai uraian di atas, confidence kadang dapat menyamarkan kelemahan kompetensi karena kemampuan menyampaikan pendapat (arguing) serta menyampaikan hal-hal complexity.

Perusahaan-perusahaan jasa head hunter and outsource employment yang dewasa ini berkembang sangat pesat telah lebih dahulu menerapkan ketiga hal diatas dengan metode digital and online based. Jadi, jika dulu kita concern pada competency seseorang, kedepannya kita harus mempertimbangkan juga aspek confidence-nya dalam penilaian murni dan menentukan bahwa “he/she has shown the right practice not just an argumentative words”. Bahkan pada rekrutmen karyawan / manajer baru dapat terlihat jelas pada 3 bulan pertama di probation period dimana tidak seluruh kandidat lulus 100% melewati masa percobaan.

Sahabat Pariwisata Indonesia, mari siapkan diri lebih matang menghadapi revolusi industri 4.0 dengan menampilkan kinerja dan gaya kepemimpinan yang sejalan dengan perubahan jaman dan tantangan bisnis. Sampai pada edisi ke-4 ini berakhir pula Managerial Development Series untuk “Robotic Human Leadership” dan sampai jumpa pada seminar-seminar kepemimpinan serta peningkatan bisnis perhotelan kedepannya.

Salam Pesona Indonesia.

Penulis;
K. Swabawa, CHA
Founder of Swaha Hospitality Management
Vice Chairman IHGMA Bali
Director of Operations Global Hospitality Expert (GHE)

Leave a Reply