Tak Bisa ke Bali, Peselancar Denmark Surfing di ‘Cold Hawaii’

Peselancar di Pantai Klitmoller, Denmark. (AFP/JONATHAN NACKSTRAND)

ihgma.com – Di pesisir barat Denmark yang berbatu, jauh dari pulau-pulau berpemandangan surgawi di kawasan tropis, “Cold Hawaii” telah menjadi pelipur lara bagi para peselancar yang terdampar oleh larangan perjalanan selama pandemi virus corona.

Melansir CNNIndonesiia Senin (19/10), surfer yang mencari ombak sempurna berdatangan ke pantai di dekat kota Klitmoller yang airnya dingin, anginnya kencang, dan nihil pohon kelapa.

Garis pantai yang kasar dan terjal ini, seringkali digelayuti langit yang kelabu dan suram, telah menjadi magnet kedatangan banyak surfer dalam beberapa tahun terakhir.

Covid-19 telah “benar-benar membuat ledakan besar,” kata Mor Meluka (34), pria asal Israel yang menetap di sini bersama keluarganya 11 tahun lalu.

Penggemar selancar di Denmark dan negara-negara terdekat, yang “dulu sering keliling dunia” tetapi sekarang tertahan di negaranya, ikut berdatangan.

“Karena mereka tidak bisa pergi ke mana-mana, kami mendapat lebih banyak tamu dari biasanya,” katanya kepada AFP.

Bersama dengan istrinya, Vahine Itchner, Meluka menjalankan “Cold Hawaii Surf Camp”, sekolah selancar yang mempekerjakan 15 instruktur di musim panas dan terus memberikan pelajaran harian bahkan di luar musim liburan.

“Anda tidak bisa benar-benar tahu ombak seperti apa yang akan Anda dapatkan. Ombaknya selalu berbeda. Jika Anda pergi ke tempat selancar sempurna seperti Bali atau Tahiti, Anda tahu persis bagaimana ombak itu akan pecah. Di sini ombak berubah sepanjang waktu,” kata Itchner, pria asal Tahiti yang pindah ke Denmark pada usia 10 tahun.

Berselancar adalah ‘hygge’

Pantai ini menambah daftar panjang spot surfing di dunia dan destinasi ini masih belum ramai turis.

Klitmoller, sebuah kota dengan penduduk 1.000 jiwa, adalah destinasi tersembunyi bagi para peselancar, karena lokasi geografisnya dan tidak adanya tradisi selancar di sana.

Kawasan di pesisir Jutland ini adalah desa nelayan, dan perairannya telah lama populer di kalangan para peselancar angin.

Surfer mulai berdatangan pada 1990-an, dengan penduduk setempat awalnya mengamati para pendatang baru itu dengan tatapan curiga.

“Surfing menjadi pemandangan baru bagi penduduk setempat … Nelayan kembali harus berbagi lautan dengan para peselancar,” jelasnya.

“Tapi sebenarnya peselancar dengan papan tidak membutuhkan banyak ruang.”

Saat ini, berselancar adalah bagian dari budaya lokal, dan bahkan menjadi mata pelajaran di sekolah.

Sjoerd Kok adalah salah satu pelopornya. Seorang programmer komputer Belanda berusia 42 tahun, dia pindah ke sini 17 tahun yang lalu “untuk berselancar”.

Antusiasmenya tidak berkurang sedikit pun, karena minat terhadap kota terus meningkat.

“Beberapa tahun yang lalu saya berkata pada diri saya sendiri bahwa ini adalah momen puncaknya … Tapi tidak.”

Itchner dan Meluka mengatakan mereka mengharapkan selancar bisa semakin populer di penjuru Denmark, negara berangin yang sudah terkenal dengan kegiatan selancar angin.

“Ini akan menjadi tempat selancar yang terkenal!” membanggakan Itchner.

Di negeri ‘hygge’ – konsep Denmark tentang kenyamanan yang mempromosikan rasa sejahtera dalam kehidupan sehari-hari – Klitmoller melambangkan bentuk seni yang lebih baik daripada tempat lain.

“Kata yang tepat adalah kata ‘nyaman’: pergi berselancar lalu pulang dan menyalakan api serta minum cokelat panas.”

Leave a Reply