Erick Bikin Holding, Hotel Indonesia Natour Spin-Off 11 Hotel

Grand Inna Bali Beach (foto: Situs resmi Grand Inna Bali Beach)

ihgma.com – BUMN pengelola hotel, PT Hotel Indonesia Natour/HIN (Persero) berencana melakukan pemisahan bisnis (spin-off) 11 unit hotel miliknya dalam rangka integrasi dan peningkatan nilai hotel BUMN melalui pendirian PT Hotel Indonesia Properti (HIPro) dengan porsi kepemilikan 99,99%.

Dalam rangka melakukan spin-off 11 unit hotel, perseroan terlebih dahulu mendirikan HIPro dengan setoran tunai. HIN akan memiliki penyertaan sebanyak 99,99% dan sisanya 0,01% oleh koperasi karyawan Grand Inna Bali Beach.

Hal itu diungkapkan berdasarkan dokumen Pengumuman Atas Ringkasan Rancangan Spin-Off Bisnis 11 Unit Hotel PT Hotel Indonesia Natour (Persero) dalam Rangka Integrasi dan Peningkatan Nilai Hotel BUMN melalui Pendirian PT Hotel Indonesia Properti seperti dilansir CNBC Indonesia Jumat (26/2).

Hotel Indonesia Natour adalah hasil gabungan dari PT Hotel Indonesia International (HII) dan PT Natour pada 13 Oktober 199. Perusahaan berkedudukan di Jakarta serta memiliki 12 unit hotel dan resort di Bali, Jawa, dan Sumatera.

Foto: Menteri BUMN Erick Thohir (BUMN)

Di Bali, pengelolaan hotel dan resort yakni Inaya Putri Bali Nusa Dua, Grand Inna Kuta, Inna Sindhu Beach Hotel & Resort, Inna Bali Heritage Hotel, Grand Inna Bali Beach.

Di Jawa yakni Grand Inna Malioboro, Grand Inna Samudra Beach, Grand Inna Tunjungan, dan Inna Tretes Hotel & Resorts. Adapun di Sumatera ada Grand Inna Padang, Grand Inna Medan, dan Inna Parapat Hotel & Resort.

Manajemen HIN menjelaskan, spin-off dilakukan sehubungan dengan rencana pemerintah dalam RJPMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun) 2020-2024 mencanangkan agenda untuk meningkatkan kualitas sektor perhotelan.

Sebab itu, pemerintah berkomitmen untuk melaksanakan program tersebut, salah satunya melalui sektor pariwisata dengan meningkatkan daya saing dan penciptaan nilai dari hotel-hotel milik BUMN.

Dalam integrasi hotel, aset HIN akan dikonsolidasikan di PT WIKA Realty karena berdasarkan kajian memiliki kemampuan berinvestasi untuk pengembangan (perbaikan dan renovasi) hotel. Dalam integrasi hotel, HIN akan menjalankan peran sebagai operator seluruh hotel BUMN yang masuk dalam integrasi tersebut.

Manajemen menjelaskan perkiraan jadwal spin-off yakni periode pengumuman kepada pegawai 25 Februari, batas akhir pengajuan keberatan kreditor atas rencana ini pada 11 Maret 2021, RUPSLB spin-off 29 Maret 2021, proses pendirian HIPro 30 Maret 2021.

Sementara itu untuk proses spin-off bisnis 11 unit hotel dan penandatanganan akta spin-off disesuaikan dengan ketentuan perundang-undangan.

Untuk pegawai, disebutkan manajemen “mempertahankan sistem remunerasi dan benefit yang diterima pegawai saat ini, manfaat pascakerja masih bisa melanjutkan keanggotaan di dana pensiun HII dan Natour atau skema lain yang nanti disepakati dengan WIKA Realty.”

Dari sisi kinerja, pada 2020, HIN mencatatkan laba komprehensif tahun berjalan sebesar Rp 37,61 miliar, membaik dari tahun sebelumnya yang merugi hingga Rp 163,54 miliar.

Pendapatan usaha melonjak menjadi menjadi Rp 730,27 miliar dari sebelumnya Rp 230,2 miliar.

Tatal aset HIN tercatat sebesar Rp 9,74 triliun, ekuitas Rp 8,52 triliun dan dan liabilitas Rp 1,22 triliun. Sementara itu, untuk HIPro asetnya mencapai Rp 2,99 triliun, ekuitas Rp 1,93 triliun dan kewajiban Rp 1,07 triliun.

Sebelumnya Menteri BUMN Erick Thohir menunjuk PT Wijaya Karya Realty (WIKA Realty) sebagai induk holding BUMN Hotel setelah menandatangani komitmen jual beli saham dengan PT Aero Wisata, HIN dan PT Patra Jasa serta Perjanjian Beli Aset dengan PT Pegadaian.

Direktur Utama Wijaya Karya Realty, Koko Cahyo Kuncoro menyebutkan konsolidasi BUMN Hotel ini direncanakan berjalan di semester pertama-2021, di mana WIKA Realty akan melakukan integrasi melalui investasi saham maupun akuisisi sekaligus berfokus untuk meningkatkan bisnis hotel

Koko menjelaskan, “dengan dibentuknya Holding Hotel ini, WIKA Realty akan mendapatkan penambahan portofolio baru sebanyak 22 hotel yang akan dikelola oleh operator Pesona Indonesia Jaya dan Hotel Indonesia Group. Selain itu akan ada 8 flagship hotel yang bergabung dalam rencana ini terdiri dari hotel bintang 5 dan 4.

“Perusahaan juga optimis Holding Hotel dapat berkolaborasi dan saling support dengan Holding Pariwisata untuk membantu meningkatkan ekonomi pariwisata Indonesia. Terlebih dengan telah dimulainya kegiatan vaksin Covid-19 kemarin, kami semakin optimis untuk menjadi institusi bisnis yang kompetitif dan global player,” katanya dalam dialog dengan CNBC Indonesia, 15 Januari 2021.

Leave a Reply