Hospitality: CSR vs Employees.

Ilustrasi - Staff hotel
Oleh: S. SAUTA., DBA.

Bali, ihgma.com – Tim manajemen yang handal dalam menjalankan operasional bisnis hospitality, adalah tim manajemen yang mampu membuat forecasting business yang akurat dalam kondisi dan situasi bisnis sesulit apapun, serta dapat melakukan antisipasi bisnis dan melakukan implementasi. Dari antisipasi bisnis yang dilakukan sesuai dengan prinsip implementasi manajemen resiko, maka perusahaan akan keluar dari resiko kerugian atau setidaknya memperkecil resiko kerugian bisnis.

Pada saat normal baru dimulai. Berdasarkan informasi di Bali mulai 11 September 2020, akan terjadi persaingan bisnis hospitality yang sangat ketat, karena pada saat itu supply>demand!. Jumlah kamar hotels / resorts banyak yang sudah dibuka akan tetapi jumlah tamu atau wisatawan belum sepenuhnya normal seperti semula.
Kemungkinan besar banyak hotel / resort yang akan menghentikan operasionalnya karena hasil pendapatan tidak dapat menutupi biaya operasional terutama fixed cost. Atau kemungkinan lain adalah akan terjadi pemutusan hubungan kerja(phk). Beberapa anekdot pernah diungkapkan oleh seorang GM hotel mengatakan “ Dengan situasi saat ini hotel tutup sementara kita harus siap menghadapinya dan kita semua harus siap membuat terobosan baru, punya bisnis tambahan atau beralih profesi sebagai wiraswasta atau pebisnis” walaupun dimulai dari usaha yang kecil.
Dukungan Melaui CSR Kepada Karyawan
Saat nya para manajemen yang Smart akan memikirkan antisipasi kepada para karyawannya apabila terjadi kondisi bisnis yang memburuk. Manajemen harus dapat membuat perencanaan pelatihan bisnis kepada karyawannya untuk antisipasi, agar apabila kondisi bisnis memburuk, tingkat hunian hotel yang rendah sehingga tidak mampu meneruskan operasionalnya. Dalam kondisi seperti itu dengan sangat terpaksa manajemen akan melakukan phk karena tidak ada pilihan yang lain.
CSR yang dilakukan oleh manajemen untuk para karyawannya dengan cara melakukan pelatihan bisnis yang mandiri kepada para karyawannya. Sebaiknya pelatihan tersebut fokus pada bisnis online, strategi pemasaran, cara menjual, cara mencari modal kerja, cara mengajukan pinjaman ke para kreditor dan sebagainya. Ingat bahwa hotel punya dana pelatihan dan pengembangan yaitu 2% dari total service charge. Dan dana untuk kehilangan dan kerusakan sebesar 3% yang mungkin tidak habis terpakai, dapat digunakan untuk membiayai pelatihan bisnis tersebut. Para pelatih/ instructor bisa dari luar hotel maupun dari kalangan internal manajemen.
Apabila sistem pelatihan bisnis ini berjalan dengan baik sudah pasti banyak karyawan hotel akan beralih profesi menjadi wiraswasta. Dampak positif akan terjadi pada internal perusahaan terjadi effisiensi tenaga kerja. Dan yang paling utama adalah setiap satu karyawan yang berhasil menjadi wiraswasta mandiri akan membuka minimum 10 lowongan kerja yang berhasil diserap perusahaan tersebut. Akan terjadi Multi Player Effect dan program ini jelas membantu perusahaan keluar dari permasalahan internalnya dan sudah pasti membantu pemerintah mengurangi pengangguran.
Sesuai dengan Permenaker No:7 Tahun 2016 Tentang Pembayaran Service Charge. Ada hak karyawan yang harus direalisasikan dalam bentuk CRS. Sesuai dengan Kepmen tersebut porsional service charge adalah 95% dibagikan kepada karyawan, 2% untuk pengembangan dan pelatihan serta 3% untuk kehilangan dan kerusakan(SYS.15Jul20).

Leave a Reply