Hotel Partial Opening: Part of Smart in Structured Decision

Foto: S. SAUTA., DBA

Oleh: S. SAUTA., DBA.
www.syahrulsauta.com

IHGMA.com – Adanya informasi akan dibukanya pariwisata Bali secara serentak oleh pementintah mulai tanggal 11 September 2020 adalah berita gembira bagi pelaku bisnis pariwisata. Begitu pula berita yang kita dapatkan melalui CNN Indonesia (Kamis 13 Agustus 2020) Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi(Menkomarves) Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Indonesia belum akan membuka sektor pariwisata untuk turis asing sampai dengan akhir 2020.

Apapun hasil keputusan pemerintah tentang kapan dimulainya turis asing bisa datang ke Indonesia kita akan menunggu hasil terbaik dari keputusan tersebut.

Persiapan pembukaan hotel kembali, harus dipersiapkan secara matang dan terstruktur oleh tim manajemen hotel. Semua keputusan haruslah menjadi keputusan bisnis yang mempertimbangkan untung dan rugi suatu bisnis.

Biaya Tetap(Fixed Cost) operasional hotel

Harus direncanakan sebaik mungkin bahwa ada beberapa biaya operasional hotel yang sifatnya biaya tetap (fixed cost) seperti gaji karyawan, biaya energi meliputi biaya listrik, air, solar, dan gas.

Ada beberapa faktor yang wajib di perhatikan dan diperhitungkan oleh para manajemen hotel dalam upaya reopening hotel untuk meminimumkan kerugian adalah sebagai berikut:

1).Memperhitungkan jumlah kamar yang tersedia untuk dijual

2). Outlets yang akan dibuka

3). Proyeksi tingkat hunian hotel dan outletnya

4). Proyeksi bisnis yang dituangkan dalam bentuk laporan proyeksi laba & rugi

5). Proyeksi cash flow hotel antara lain:

  • Jumlah kamar yang tersedia untuk dijual
    Manajemen hotel haruslah memperhitungkan jumlah kamar yang tersedia di jual pada saat reopening. Sebaiknya tidak semua kamar akan tersedia untuk di jual. Haruslah memperhatikan proyeksi tingkat hunian hotel dan mempertimbangkan biaya tetap yang akan muncul akibat dari pembukaan hotel tersebut. Flooring system atau block system dapat diterapkan untuk memudahkan pengawasan dan efisiensi biaya
  • Outlets yang akan dibuka.
    Setiap pembukaan outlets akan menimbulkan biaya tetap seperti gaji karyawan dan biaya energi. Maka fungsi pengawasan yang terstruktur haruslah diterapkan dengan disiplin yang tinggi dan konsisten. Bisa saja untuk jangka waktu tertentu restaurant dan bar digabungkan agar biaya tetap bisa di kendalikan dan di alokasikan.
  • Proyeksi tingkat hunian hotel dan outletnya.
    Setiap saat proyeksi bisnis yqng meliputi pendapatan kamar dan outlets haruslah berdasarkan tingkat hunian hotel dan proyeksi bisnis yang akurat dengan senantiasa memperhatikan tingkat margin yang akan diperoleh walaupun nilainya kecil, akan tetapi semangat untuk tetap bertahan tetap bisa dikobarkan oleh pihak manajemen yang hal ini akan menjadi pondasi motivasi bagi kelangsungan hidup perusahaan.
  • Proyeksi bisnis dan laba & rugi.
    Harus selalu diingat bahwa proses akhir hasil dari perusahaan bisnis adalah untung atau rugi. Pada situasi kondisi pandemi Covid 19 ini perusahaan dapat survive dengan cara mengawasi biaya operasional nya secara terstruktur, maka keadaan tersebut sudah baik. Dan setidaknya perusahaan dapat meminimumkan kerugiannya dengan catatan masih terdapat positif cash flow.
  • Proyeksi cash flow hotel.
    Dalam membuat proyeksi cash flow haruslah menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Terutama pada posisi cash inflow maupun cash outflow. Awasi pengeluaran dengan ketat dan penuh disiplin. Ingat setiap penambahan atau pembelian sesuatu untuk operasional hotel adalah tambahan biaya dan pengurangan cash balance. Jadi harapkan manajemen haruslah dengan berharap akan terjadi positif cash flow.(SYS17082020)

Leave a Reply