Inovasi Hotel Bertahan di Tengah Pandemi Covid-19

Ilustrasi hotel. ©2012 Shutterstock/pjcross

ihgma.com – Sekretaris Jenderal Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Maulana Yusran, mengungkapkan bisnis hotel dan restoran tengah berjuang keras bertahan di tengah pandemi. Para pelaku usaha harus bisa berinovasi.

Melansir Merdeka Jumat (19/2), bisnis hotel, kata Maulana, melihat peluang Work From Home (WFH) menawarkan berbagai paket seperti untuk staycation, agar masyarakat bisa bekerja sambil berlibur. Strategi lain dengan menawarkan paket belajar sambil berlibur untuk anak-anak sekolah.

“Ini merupakan bagian dari banyak strategi di bisnis hotel dan restoran. Strategi pemasaran di tengah pandemi, karena pelaku usaha hotel dan restoran butuh inovasi,” kata Maulana dalam dialog virtual pada Jumat (19/2).

Upaya lain yaitu mengikuti tawaran pemerintah untuk menjadikan hotel sebagai fasilitas akomodasi bagi pasien orang tanpa gejala (OTG). “Jadi banyak strategi yang kami inovasikan untuk mendapatkan demand dengan tetap menerapkan protokol kesehatan,” sambungnya.

Maulana menegaskan bahwa sektor pariwisata bergantung pada kebijakan pemerintah, terutama di tengah pandemi Covid-19. Situasi pandemi membuat operasional sektor pariwisata termasuk hotel dan restoran terganggu.

“Kita melihat kebijakan pemerintah, karena bagaimana pun sektor pariwisata tidak bisa berdiri sendiri, bergantung pada kebijakan pemerintah. Karena masih pandemi, pergerakan orang dibatasi karena kalau tidak situasi bisa rumit,” katanya.

Ilustrasi resepsionis hotel memberikan kartu akses kamar pada tamu Foto: Shutter Stock

Dampak Pandemi Corona, 60 Hotel di Bali akan Dijual

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Badung, Bali, Rai Suryawijaya menyebutkan imbas dari pandemi Covid-19 membuat 60 hotel yang tersebar di Pulau Dewata akan dijual.

“Iya ada 60 hotel yang (akan) dijual. Itu sebelum pandemi Covid-19 ini 27 hotel yang mau dijual. Pasca-pandemi Covid-19 bahkan meningkat 60 itu mau dijual. Bintang berapa saja ada, di seluruh Bali ada hotel yang mau dijual sekarang,” kata Suryawijaya saat dihubungi, Kamis (4/2).

Ia menerangkan, dijualnya hotel-hotel tersebut karena tingkat hunian sangat rendah selama ini, berkisar antara 5 hingga 7 persen. Di sisi lain, para pelaku usaha hotel harus membayar kewajiban utang di bank.

“Karena tingkat hunian sangat rendah, iya 5 persen, 7 persen, yang terisi lima kamar jadi tidak bisa menutupi. Yang kedua tentu tidak bisa membayar kewajiban untuk di bank. Karena ada utang di bank pengembalian pinjaman. Walaupun dikasih relaksasi, tetap kewajibannya (dibayar),” imbuhnya.

Bila pandemi Covid-19 belum usai, tentu efeknya ke depan akan ada lagi hotel yang dijual. “Akan bertambah, bisa jadi. Dan kemungkinan besar kalau (pandemi Covid-19) masih ini lama, banyak yang pailit,” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan, agar tidak banyak hotel di Bali dijual pihaknya sudah mengusulkan kepada pemerintah untuk memberikan pinjaman lunak kepada para pelaku usaha hotel.

“Iya harus segera diberikan pinjaman lunak. Iya mengusulkan untuk diberikan pinjaman lunak bukan tawaran, mengusulkan,” katanya.

Untuk kerugian di sektor pariwisata di Bali sejak adanya pandemi Covid-19 mencapai sekitar Rp 10 triliun per bulan. Sementara para pelaku usaha hotel sudah sangat berat untuk bertahan.

“Hitungan dari devisa saja Rp 10 triliun perbulan untuk Bali saja. Jujur selama ini (pelaku usaha hotel) tidak kuat lagi. Karena, maintenance dan operasional club incomenya minim,” ujar Suryawijaya.

Leave a Reply