Kampung Adat Kuta, Kampung Seribu Tabu di Ciamis

Kampung Adat Kuta Ciamis / Foto : travel.wego.com

ihgma.com – Mempertahankan adat istiadat leluhur masih dipegang teguh oleh masyarakat Kampung Adat Kuta. Aktivitas warga seolah membawa ingatan kita pada masa lalu, sebuah desa dengan peraturan  dan segala pantangannya, bentuk bangunan rumah yang sama, ada ketua adat dan mata pencaharian bertani dan beternak.

Kampung ini terletak di Desa Karangpaninggal, Kecamtan Tambaksari, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. Jarak dari Bandung sekitar  177 km atau membutuhkan waktu empat jam jika menggunakan kendaraan pribadi. Sedangkan dari Pusat Kota Ciamis jaraknya sekitar 45 km.

Lokasi kampung ini berada di suatu lembah yang dikelilingi tebing. Tebing tersebut diibaratkan sebagai tembok atau benteng, sehingga memunculkan nama kuta yang melekat pada kampung ini. Luas Kampung Ada Kuta sekitar 185,195 hektar yang terdiri dari 44,395 hektar berupa lahan sawah dan 140,8 hektar berupa hutan lindung, pemukiman dan perkebunan milik warga seperti dilansir Kabar Travel.

Rumah warga rata-rata berpekarangan luas yang ditanami pohon ka wung atau pohon enau, oleh karena itu penduduknya banyak yang bermata pencaharian sebagai pembuat gula aren. Selain itu ada juga yang bertani dan beternak.

Dari bumi pesanggrahan atau atau pusat sarana adat kampung, kita bisa lihat indahnya sawah yang membentang serta hutan lindung. Di dekat kampung juga terdapat Setu Rancabogo yang jaraknay sekitar 300 meter dari kampung. Warga setempat maupun dari luar kampung biasanya memancing ikan di setu yang dulunya berupa rawa ini.

Kampung Adat Kuta selain dipimpin oleh pemimpin formal seperti ketua RT, kepala dusun, juga dipimpin oleh ketua adat dan kuncen. Ketua adat mengurusi hal-hal terkait adat istiadat kampung. Sedangkan kuncen mengurusi upacara yang berkaitan dengan hutan keramat atau leuweng gede. Di hutan keramat tersebut dipercaya menyimpan pusaka Kerajaan Galuh dan tempat bersemayam leluhur Kampung Kuta.

Bicara adat istiadat Kampung Kuta, selalu dikaitkan dengan pamali atau tabu. Tabu tersebut biasanya terkait membangun rumah, tata cara bekerja, memberi nama anak yang baru lahir, pernikahan, kehamilan, penguburan kesehatan dan keberadaan hutan keramat.

Warga Kampung Adat Kuta ditabukan membangun rumah dengan genteng dan tembok, agar penghuni rumah tidak seperti dikubur. Karena rumah dari tananh (genteng) sama artinya dengan dikubur. Rumah harus berbahan bilik atau anyaman bambu, kayu dan berbentuk panggung.

Selain itu ditabukan membangun rumah saling memunggungi, jadi rumah di kampung ini harus saling berhadapan, kecuali jika jaraknya jauh. Maksudnya apabila penghuni rumah mendapat musibah tetangga yang berada di depannya dapat mengetahuinya.

Tabu terkait hutan keramat, bagi yang ingin memasuki hutan dilarang memakai baju dinas dan perhatian. Maksudnya untuk mengungatkan tidak sombong, karena dimata Tuhan semua sama. Selin itu ditabukan memakai alas kaki, meludah, buang air kecil. Tabu masuk hutan selain hari Senin dan Jumat.

Selain hutan keramat, masyrakat Kampung Kuta juga percaya tempat-tenpat yang dikeramatkan lainnya seperti Gunung Wayang, Gunung Panday, Domas, Gunung Barang, Gunung Batu Gong dan Ciasian.

Adat istiadat yang masih terus masih dilakukan adalah upacara adat seperti upacara perseorangan juga upacara untuk kepentingan bersama, seperti upacara hajat bumi, nyuguh dan babarit.

Leave a Reply