Makna Penjor Galungan dan Mengapa Dipasang Saat Penampahan?

Penjor berjajar rapi di setiap rumah di Kota Denpasar. (KOMPAS.com/SRI LESTARI )

ihgma.com, Denpasar – Saat penampahan Galungan, masyarakat Hindu, selain nampah (memotong hewan) yang umumnya babi, juga membuat penjor.

Penjor ini, dipasang saat penampahan Galungan atau sehari sebelum hari raya Galungan.

Akan tetapi, saat ini banyak orang yang memasang penjor sebelum penampahan dengan alasan kesibukan saat penampahan tidak sempat membuat penjor ataupun karena terbatasnya tenaga untuk membuat penjor ini.

Lalu apa sebenarnya makna, mengapa penjor dipasang saat penampahan Galungan?

Mengutip Bali Tribun, menurut Dosen Bahasa Bali Unud yang juga pegiat lontar, Putu Eka Guna Yasa, penjor ini merupakan lambang Bhatara Mahadewa yang berstana di Gunung Agung atau Bhatara Siwa.

Dalam membuat penjor, adapun sarananya yaitu pala bungkah atau segala jenis umbi-umbian, pala gantung segala jenis yang tergantung seperti buah-buahan, palawija atau biji-bijian, bambu, kasa putih kuning, lamak.

Penjor tersebut ditancapkan di depan pintu masuk saat penampahan sore agar esoknya saat Galungan masih dalam keadaan segar.

“Kenapa perlu kesegaran, karena kita meyakini leluhur datang ke pemerajan dan itu merupakan bentuk penghormatan secara sekala dan alangkah bagusnya warna kuning dan pitih dari janur dan ambu.”

“Selain itu penjor ini juga berkaitan dengan upacara Dewa Yadnya sehingga apa yang dipersembahkan harus segar,” kata Guna.

Selain itu, Guna juga mengatakan makna ambu atau busung yang digunakan dalam penjor karena warna putih dari ambu dan kuning dari janur agar ada warna galang (terang) saat merayakan kemenangan dharma melawan adharma.

Selain itu, ambu yang berwarna putih juga dijadikan sebagai sarana pengingat dahulu oleh Sang Rama saat membedakan antara Subali dan Sugriwa dan dipasang pada ekornya sehingga bisa pula ditafsirkan bahwa ambu ini digunakan sebagai simbol kebenaran karena dengan pasti Rama bisa memanah Subali yang dianggap salah memerangi adiknya sendiri yaitu Sugriwa.

Selain itu penggunaan bambu dalam membuat penjor juga memiliki makna tertentu.

Menurut Guna, secara filosofis bambu dianggap sebagai tumbuhan yang tegak lurus ke atas kemudian setelah di puncak merunduk ke bawah yang juga sering diidentikkan dengan pemimpin bahwa kebenaran harus ditancapkan setelah di atas jangan lupa yang di bawah.

“Pada teks lontar Jnana Sidanta, bambu dijadikan metafora untuk kerinduan atman dengan paramatman. Sehingga ada istilah dewa ambara yoga di mana bambu dianggap sebagai tubuh dan udara di dalam bambu disebut atman.”

“Siang dan malam atmam ini mencari jalan keluar agar udara dalam bambu bertemu udara bebas atau mahaudara,” kata Guna.

Sehingga bambu digunakan sebagai sarana karena antara udara yang ada di dalam bambu dengan jiwatman yang ada di dalam tubuh manusia dianggap memiliki kesejajaran.

 

Leave a Reply