Miris, 100 Unit Lebih Angkutan Wisata di Bali Ditarik Leasing Hingga Dilelang Akibat Pandemi

Lenggang - Kondisi jalan Bakung Sari, Kuta, Badung, Bali, Rabu (3/3/2021).(Kompas.com/ Imam Rosidin)

ihgma.com, Denpasar – Pandemi Covid-19 sudah berlangsung setahun lebih, perekonomian Indonesia dan Bali khususnya sangat terpuruk hingga sekarang.

Tak terkecuali angkutan wisata juga sangat terdampak karena tidak adanya kunjungan wisatawan mancanegara dan wisatawan nusantara yang menyewa.

Persatuan Angkutan Wisata Bali (Pawiba) yang menjadi wadah hampir 150 usaha angkutan saat ini tidak dapat lagi mempertahankan kemandirian ekonominya sehingga harus mengalami banyak kesulitan dan hal lainnya.

Mengutip Bali tribun, segala macam usaha telah diupayakan hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan dasar sebagai pelaku usaha, dan berusaha mempertahankan kelangsungan hidup usaha dengan cara seadanya.

“Keluhan dari semua anggota kami sama semua, yaitu kesulitan menghadapi melakukan kewajiban-kewajiban kita terhadap pembiayaan (membayar angsuran armada bus). Dan sudah tidak ada kebijaksanaan dari beberapa perusahaan pembiayaan seperti relaksasi, penundaan pembayaran dan lain-lain,” ujar Ketua Pawiba, I Nyoman Sudiarta saat memberikan keterangan di Warung Royal Garage, Renon, Denpasar, Senin 7 Juni 2021.

Kemudian perusahaan pembiayaan (Leasing) merasa dirugikan lalu mereka banyak melakukan penarikan kendaraan terhadap pengusaha angkutan wisata yang tidak dapat memenuhi kewajibannya (membayar angsuran).

Konferensi pers Pawiba mengenai kondisi anggotanya sekarang yang armadanya ditarik ataupun dijual dampak pandemi Covid-19. (Tribun Bali/Zaenal Nur Arifin)

Bahkan selain ditarik oleh Leasing, pengusaha angkutan memilih menjual murah atau melelang kendaraannya untuk memenuhi kebutuhan dasar hidupnya untuk sekedar bertahan ditengah pandemi Covid-19.

“Kalau data resmi berapa yang unit yang ditarik dari seluruh anggota kami belum ada pastinya. Tapi kendaraan yang hilang dari anggota saya sudah diatas 100 unit lebih armada anggota kami yelah dijual atau ditarik. Dengan itu kita mengalami kerugian selama pandemi hingga sekarang mungkin mencapai Rp 100miliar lebih,” ungkap Nyoman Sudiarta.

100 lebih kendaraan yang telah hilang baik itu kendaraan sewa Mobil (jenis Avanza hingga Innova atau sejenisnya), kendaraan sewa premium (jenis Alphard sejenisnya), kendaraan Sewa ELF, Hiace, kendaraan Bus Pariwisata medium 20, 30, 35 seat dan bahkan kendaraan bus pariwisata 40 – 45 seat.

Bagaimana dapat memenuhi kewajiban membayar angsuran karena selama pandemi Covid-19 ini tidak dapat beroperasional disebabkan tidak adanya tamu yang datang.

Kami berharap, kepada Pemerintah memerhatikan keberadaan kami yang juga terdampak pandemi Covid-19.

“Pengusaha-pengusaha angkutan bus wisata ini berharap kebijaksanaan dari pemerintah untuk merekomendasikan kepada pengusaha-pengusaha pembiayaan di Bali baik Bank Pemerintah maupun Swasta maupun Finance supaya memberikan satu kebijaksanaan kepada kami. Karena kami pengusaha-pengusaha angkutan bus pariwisata di Bali saat ini koleps tidak beroperasi dampak pandemi,” imbuhnya.

Selain itu pihaknya juga berharap agar pintu pariwisata Bali bagi Wisman dapat segera dibuka, karena dengan dibukanya kembali pariwisata Bali bagi Wisman tentu angkutan wisata kami mulai kembali dapat beroperasi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat.

Dan saat ini lebih kurang 30 hingga 40 pengusaha angkutan wisata yang tergabung dalam Pawiba telah koleps dari kurang lebih 150 anggota yang terdaftar.

Menindaklanjuti kondisi anggotanya, Pengurus Pawiba akan bertemu dengan Komisi II DPRD Provinsi Bali besok siang untuk menyampaikan sejumlah poin untuk disampaikan langsung kepada para anggota dewan

“Ada beberapa poin besok yang akan kita sampaikan untuk mendapatkan rekomendasi dari para anggota eksekutif agar dapat diteruskan kepada pemerintah. Kurang lebih ada delapan poin yang akan kami sampaikan,” jelas Nyoman Sudiarta.

Delapan poin yang akan disampaikan besok kepada Komisi II DPRD Provinsi Bali diantaranya : 

1. Menghentikan Kegiatan aksi Tarik Menarik Aset fiducia secara brutal oleh pihak pihak Jasa Keuangan dan Debt Collector dan semua pengusaha angkutan pariwisata Bali diberikan kelonggaran membayar kewajiban kepada Perusahaan Jasa Keuangan atau Leasing yang sama sekali tidak memberatkan Pengusaha.

2. Mengevaluasi kegiatan data pressure (menggelembungkan data dan nilai pinjaman sepihak yang memberatkan dan mengarah pada penyelesaian sepihak yang di mengarah pada point 1) yang dilakukan oleh Pihak jasa keuangan kepada Semua Pelaku usaha Pariwisata.

3. Dispensasi / Pemutihan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) untuk kendaraan Pariwisata seluruh Anggota Pawiba yang lebih kurang 150 Perusahaan di Bali.

4. Dipastikan pariwisata Bali dibuka kembali bulan Juni atau Juli 2021, namun tetap disiplin menjalankan protokol kesehatan Covid 19

5. Meminta kepada Pemerintah Provinsi Bali dan Kementrian Pariwisata Republik Indonesia pinjaman lunak (Soft Loan) untuk seluruh Anggota Persatuan Pengusaha Angkutan Pariwisata Bali agar dapat segera memutar kembali perekonomian Pariwisata dan Pemulihan Ekonomi Pariwisata Kreatif Bali.

6. Menertibkan segera agar semua usaha perjalanan wisata angkutan wisata dari Luar Bali yang mengangkut wisatawan domestik yang tidak disiplin menjalankan ketentuan Protokol Kesehatan di Provinsi Bali agar ditindak sesuai dengan ketentuan hukum. Karena ditemukan banyak angkutan wisata bus dari luar pulau melakukan perjalanan wisata di Bali tanpa masker, tanpa jaga jarak, berdesakan tidak sesuai peraturan. Atau bahkan tanpa test kesehatan sebagai syarat masuk wisata ke Bali yang dapat di duga menjadi klaster baru Covid-19 dan memperburuk citra pariwisata Bali.

7. Memberikan aturan tambahan agar pelaku perjalanan wisata domestik dari luar pulau Bali yang menggunakan bus besar, agar pada saat di Bali hendaknya melibatkan angkutan bus pariwisata Bali untuk menjadi mitra kerja menggunakan angkutan bus medium dan tertib displin menjalan protokol kesehatan selama di Bali.

8. Bersama-sama berperilaku disiplin sesuai protokol kesehatan untuk dapat membuka kembali pariwisata Bali yang lebih maju.

Meskipun Pemerintah Pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Kemenko Marves) telah mencanangkan program Work From Bali (WFB), menurut Ketua Pawiba Bali program tersebut secara langsung tidak menyentuh pengusaha angkutan wisata.

“Untuk WFB secara langsung tidak menyentuh daripada pengusaha-pengusaha angkutan wisata dan anggota kami yang ada di Bali. Tetapi secara keseluruhan keinginan Pemerintah Pusat ingin meramaikan kunjungan wisatawan nusantara agar pariwisata Bali bangkit,” tambahnya.

Pihaknya lebih besar berharap jika diperbanyak kegiatan-kegiatan Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition atau MICE di Bali karena dengan diselenggarakan disini tentunya akan banyak rombongan tamu datang dan membutuhkan transportasi seperti bus.

“Kami berharap Pemerintah supaya menggalakkan kegiatan-kegiatan MICE di Bali, supaya dampaknya dirasakan sampai kepada komponen pariwisata seperti kami pengusaha angkutan wisata,” harap Nyoman Sudiarta.

Kami yang tergabung sebagai Pawiba yaitu kompenen pelaku usaha bidang transportasi pariwisata yang konsisten, dan senantiasa memberikan kontribusi dan pendapatan ekonomi Bali khususnya sektor pariwisata di bidang penyiapan Kendaraan Angkutan Pariwisata di Bali.

 

Leave a Reply